Anggota Keluarga Baru

Hai dengan Kikhu di sini….

Kikhu mau cerita tentang anggota keluarga baru. Kejadiannya sudah agak lama, cuma karena Kikhu sibuk nana nini (ke sana ke sini maksudnya), baru sekarang bisa menuliskannya. Sepulang dari Cangkringan terakhir itu, Pajo yang jaga rumah memamerkan hasil buruannya. Katanya: ya dia datang sendiri, terus saya mau pegang kok lari masuk got. Terus hari berikutnya dia datang lagi, dipasang lem tikus, eh kena. Anakan biawak disimpannya di dalam ember.

img_20180402_153500-350961875.jpg

Pajo tidak mau bawa. Katanya: masih terlalu kecil, pun dipotong dagingnya tidak banyak. Pawi dan Buni sepakat, sudahlah dilepas saja. Setelah diberi makan jangkrik. Dia dilepas di halaman belakang. Biarlah dia liar kembali ke alam. Beda dengan Krucil musang itu, dulu dikandangkan karena ada beberapa luka di badannya dan terlihat kurus kurang makan. Kasihan kata Buni.

Sekitar seminggu kemudian, eh itu biawak kecil muncul terlihat lagi. Pawi kasih jangkrik yang biasa buat burung, dilempar gitu, langsung kejar dan hup masuk mulut. Habislah sekitar sepuluh ekor jangkrik. Setelah itu dia pergi ke bawah mesin cuci. Hari berikutnya Buni melihat biawak kecil ini sedang berusaha menelan kadal kecil, tinggal terlihat ekor kadal. Terkesima, Buni tidak ambil gambarnya. Sebagai penjelas, beberapa hari sebelumnya memang ada kadal kecil di halaman belakang, sama Buni disediakan ulat hongkong makanan burung. Kadal kecil itu memakannya.

Pawi dan Buni menyadari, ini biawak kecil ini mencari makan. Okelah jika begitu. Hari berikutnya dia datang, setelah dikasih sekitar sepuluh jangkrik, dia pergi. Ya masih belum ada yang berani untuk dekat-dekat. Seram. Tapi setelah setiap hari dia datang, Buni dan Pawi menjadi akrab. Dia selalu kejar sesuatu yang bergerak. Jadi ceritanya, Buni belum menyadari kehadirannya, mungkin jempol kakinya gerak-gerak gitu, eh tetiba (ini bagus ya buat ganti kata tiba-tiba) dia datang. Woaaaaa, kata Buni. Sekitar jam 9-10 pagi, setelah mulai panas, dia akan terlihat di halaman belakang.

Resmilah biawak kecil itu menjadi anggota keluarga. Kami menyebutnya sebagai Sibi, Si Biawak. Tidak menggunakan huruf K, seperti nama-nama yang anggota keluarga yang disematkan Buni, karena kalau Kibi kok kayanya kurang imut. Pada jam-jam tertentu Sibi akan mengintip dari got, ini fotonya.

img_-mwr802-1506795105.jpg

Sibi mengintip dari got :))

Atau pada kesempatan lain, dia berjalan-jalan dengan santai menikmati udara dan panas matahari. Berjemur. Ini beberapa penampakannya.

img_20180428_123017-1151580876.jpg

img_20180505_101345-350064303.jpg

img_0663

Sibi, gagah ya.

Pokoknya Sibi sudah menjadi anggota keluarga besar. Dia bebas berkeliaran di halaman belakang. Tidurnya entah di bawah mesin cuci, di gerumbul pepohonan, di bawah almari, atau entah di mana. Bebas saja. Pawi sudah mulai kenal, kasih makannya langsung ke mulutnya, tidak dilempar lagi. Makannya sangat lahap. Kemarin itu sama Pawi sempat dikasih potongan daging ayam, biasanya jangkrik ya, ya lahap banget makannya. Lidahnya yang ungu dijulur-julurkan. Ketika menelan makanan maka leher akan diputar-putar, membantu makanan masuk ke perutnya.

Sibi membawa pelajaran juga: dia akan selalu pergi jika sudah kenyang. Pun diberikan makanan lagi, akan ditinggalkannya. Sebelum masuk bawah mesin cuci atau masuk ke gerumbul pepohonan, dia akan memalingkan muka mungkin mengucapkan terima kasih. Sibi anggota keluarga baru, beberapa hari ini tidak tampak, mungkin sedang berganti kulit karena terakhir terlihat kulit tubuhnya banyak mengelupas.

Kehadiran Sibi ini tidak mengherankan. Tahun lalu, induknya pernah mampir ke garasi. Siang-siang Pawi mau tangkap itu satu yang masuk garasi eh kok ternyata ada dua, yawis biarlah mereka hidup liar di luar. Biawak dewasa ini cukup besar, sekira lengan manusia dewasa yang tidak gemuk tapi juga bukan kurus. Ini penampakan gagahnya.

img_20170617_1341001585219923.jpg

img_20170617_134618-1553051999.jpg

Indukan biawak, dengan santai meninggalkan garasi.

Ciaoooo, sampai ketemu di cerita berikutnya.

Advertisements

Pekan Suci -4 – Vigili Paskah

Vigili Paskah – Tirakatan Wungu Dalem

Sabtu malam sebelum Minggu Paskah adalah perayaan khas Gereja Katholik. Denominasi Kristen yang lain tidak mempunyai ritual untuk vigili ini. Bicara soal denominasi ini agak sengkarut sebetulnya tergantung klaim muncul dari mana. Tetapi sekedar pembedaan dari sejarahnya maka pemisahan kristen yang pertama adalah antara gereja barat (Roma, Katholik) dengan gereja timur (Konstantinopel, Orthodox). Pada gereja barat kemudian ada pemisahan lagi yang lebih mudah disebut: Kristen Katholik dan Kristen Protestan. Kaprah yang berlanjut,  ‘Katholik’ untuk sebutan Kristen Katholik dan ‘Kristen’ untuk sebutan Kristen Protestan.

Itu garis besarnya. Jika dalami maka akan banyak sengkarut yang melibatkan soal: dasar iman kepercayaan, ritus, kitab-kitab yang diakui, pimpinan, hingga ritus. Katholik dan Orthodox biasanya tidak menyebut diri sebagai denomimasi. Denominasi hanya diperuntukkan kelompok-kelompok di dalam kelompok besar Kristen (Protestan). Udah deh segini dulu soal ini.

Banyak hal bisa diperdebatkan tetapi soal Paskah, Kebangkitan Tuhan semua menyepakati hal yang sama: Yesus wafat sebagai silih atas dosa manusia, Yesus mengalahkan maut, bangkit untuk menebus  manusia dan menyertai manusia sepanjang masa.

Perayaan Vigili Paskah dilaksanakan di Gereja St. Franciscus Xaverius Cangkringan pada Sabtu 31 Maret 2018 dimulai pukul 19:00 dipimpin oleh Romo Antonius Susanto, OMI menggunakan bahasa Jawa dengan iringan gamelan.

Perayaan Vigili selalu dimulai dengan upacara cahaya yang menjadi simbol bahwa Yesus Kristus sebagai terang dunia. Dalam keadaan gelap, seluruh lampu dimatikan agar hanya akan ada cahaya dari lilin Paskah, arak-arakan petugas liturgi dan romo berhenti di depan pintu gereja di mana upacara cahaya akan dilakukan. Tiba-tiba terdengar doa pembukaan dalam bahasa Jawa yang dinyanyikan (dikidungkan) oleh Romo Santo. Romo Santo sangat piawai dalam menyanyikan doa-doa itu, suaranya yang  keras namun lembut, bulat dan jelas menciptakan suasana yang syahdu. Nges. Sayang gak bisa ambil audito maupun video-nya.

Perarakan lilin Paskah memasuki gereja yang kemudian ikuti Madah Pujian Paskah (Pepudyan Paskah) yang dikidungkan oleh petugas. Berikut video cuplikannya.

Umat menanggapi dengan menyanyikan:

Surak-suraka umat manungsa sadonya
Surak-suraka Gusti wungu saka seda
Sembah sewu nuwun unjukna marang Pangeran
Gusti menang perang klakon kalah bala setan

Pembacaan Liturgi Sabda yang jumlahnya lima, tiga bacaan dikidungkan oleh petugas dan tiga doa menyertai dikidungkan oleh Romo Santo. Mantab banget.

Maaf jika terlalu lirih ya :))

Teks doa yang dibacakan itu:

IMG_20180401_163344

Hingga bacaan Injil dilanjut dengan homili. Romo Santo mengajak umat untuk tersenyum dan tetap tersenyum menghadap ke kanan dan kiri. Sebuah ice breaking yang sangat bermakna. Senyum yang berasal dari hati mudah membawa kita dekat dengan orang-orang di sekitar. Inti homili Romo Santo adalah ucapan: aja wedi, jangan takut. Mengapa tidak perlu takut? Ada tiga alasan untuk tidak perlu takut.

Pertama, Gusti pingin manunggal. Ketika Allah menciptakan dunia dan seisinya, menciptakan langit dan bumi, daratan dan lautan, binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, manusia dicipta menurut citraNYA (ngemperi Aku).  Allah melihat semuanya itu baik.  Kita tidak perlu takut karena Allah sendiri menciptakan itu semua baik dan DIA menyertai kita.

Kedua, Gusti aweh pitulungan. Pada waosan kapindo diambil dari Pangentasan 14:15 – 15:1 tentang bagaimana Allah menyertai dan menolong Bangsa Israel dari kejaran bala tentara Mesir. Allah tidak hanya menyertai tetapi juga memberi pertolongan. Tidak hanya dulu kepada Bangsa Israel, tetapi juga kepada kita sekarang ini. Itu membuat kita tidak perlu takut.

Ketiga, akeh salah mertobat entuk ati anyar.  Bacaan ketiga diambil dari Kitab Ezekiel dengan petikan sebagai judul ‘kowe bakal Daksiram banyu bening lan Dakparingi ati anyar‘, kamu semua bakan disiram dengan air bening dan diberi hati baru. Pun kita telah berdosa, ‘krana Asma-Ku sing suci sing wis kogawe kucem‘ tetapi kita diberi kesempatan memperbaiki diri. ‘Kowe bakal Dakresiki saka sakehe reregedmu lan kabeh gugon tuhonmu. Kowe arep Dakparingi ati anyar lan batinmu Daktanduri roh anyar‘. Jika sudah begini apa yang membuat kita takut?

Itu semua karena Sang Putra Terkasih yang dikurbankan sebagai silih dosa manusia sudah bangkit mengalahkan maut ‘Sang Kristus wungu saka seda lan ora bakal seda maneh‘. Ini harus jadi keyakinan kita sehingga kita berani dan hidup dalam iman akan Yesus Kristus. Begitu homili Romo Santo yang diingat. Ya diingat karena di ritus penutus Romo Santo mengulangi dalam bahasa Indonesia isi homili tadi secara ringkas agar yang tidak mengerti bahasa Jawa bisa mengikuti dengan baik.

Setelah homili disambung dengan ‘ngenggalaken prajanji baptis‘, ya mengulangi janji baptis. Sebagai orang Katholik untuk sanggup untuk ‘nyingkur setan, mbrantas kadurakan, ninggal panggodha, nglawan sarupane tindak murang adil‘. Diterus ‘ngandel marang Allah, Rama kang Mahakuasa, Gusti Yesus Kristus, Putra Dalem ontang-anting….‘ yang merupakan bentuk dari syahadat iman kepercayaan Katolik. Umat mendapat percikan air suci dengan memegang lilin yang dinyalakan berasal dari lilin Paskah, yang menandakan baptis yang pernah diterima diperbaharui. Sementara gending-gending menyanyikan beberapa lagu. Tidak panjang waktu karena umat juga tidak terlalu banyak, 250an saja.

Upacara dilanjut dengan liturgi Ekaristi dan ritus penutup dengan berkah meriah Paskah. Tak terasa malam semakin larut. Lihat penunjuk waktu sudah menunjukkan pukul 21:50an yah hampir 3 jam. Meski misa sudah selesai umat masih banyak yang beradu cerita di depan gereja, tak ada yang buru-buru. Membalas senyum dan ucapan ‘Selamat Paskah’ begitu mudah diberikan umat. Memang misa dengan gending akan menjadikan waktu lebih panjang tetapi terasa sangat menyentuh dan membuat haru yang dalam.

Semoga catatan ini menjadi pengingat serta penyimpan memori di internet. Tak muluk-muluk, reportase dibuat untuk melatih menulis dan menyimpan tulisan yang dibuat.

Reportase ini, meskipun telat upload, menandai berakhirnya reportase Pekan Suci. Besok mungkin muncul cerita yang lain dan yang lain lagi.

ciao.

 

Pekan Suci -3 – Jumat Agung

Jumat Agung

Umat Kristiani memperingati wafat Tuhan Yesus pada perayaan Jumat Agung. Pada kalender kita, kita libur pada hari Jumat ini. Sedang pada kebangkitanNYA, di hari Minggu malah tidak dinyatakan sebagai hari libur. Ya karena yang menggunakan kalender Gregorian biasanya juga libur di hari Minggu jadi tidak perlu ada libur lagi.

Bagi umat Katolik, peringatan wafat Tuhan Yesus adalah peringatan khusus. Tidak ada ekaristi di hari itu, pokok liturginya hanya: liturgi sabda, penyembahan salib, dan komuni. Komuni tidak didahului Doa Syukur Agung dan menggunakan hosti yang sudah dikonseklir pada perayaan Kamis Putih. Maka biasanya di Kamis Putih, hosti yang dikonseklir lebih lebih banyak dari biasanya karena untuk komuni di Jumat Agung.

Di Gereja St. Franciscus Xaverius Cangkringan, sebuah stasi dari Paroki Petrus dan Paulus Babadan – Sleman, perayaan Jumat Suci dilaksanakan pukul 15:00 menggunakan bahasa Jawa tanpa gending dan dipimpin oleh Romo Andreas Sulardi, Pr. Bila di kota-kota besar mengikuti rangkaian Pekan Suci butuh waktu 1 – 2 jam sejak berangkat dari rumah, menunggu waktu dimulai, maka di stasi kecil begini lebih longgar. Hingga 20 – 30 menit sebelum dimulai masih sepi, meski nanti ketika waktu mulai bakalan penuh juga.

Suatu yang khas di gereja Katolik adalah pembacaan Kisah Sengsara Tuhan Yesus yang dilagukan (pasio). Lagu pasio sudah standar dan mudah diingat tapi bila dalam bahasa Jawa, ya baru akan mengikuti sekarang ini. Ini kesempatan pertama mengikuti pasio pakai bahasa Jawa, menarik. Berikut ini video cuplikan pasio dalam bahasa Jawa itu: Pasio Sangsara Dalem Gusti Yesus

 

Disajikan juga bagian yang dilagukan itu, agar bisa diikuti dengan baik :))

IMG_20180331_072844[1]

Tidak ada homili pada kesempatan ini dilanjut dengan doa umat yang juga dilagukan. Doa umat kali ini adalah doa permohonan yang dilagukan bergantian antara pelagu doa dengan romo, juga dalam bahasa Jawa. Berikut cuplikan salah satu doa permohonan yang dilagukan oleh lektris. Menarik.

 

Ini doa yang ditayangkan itu:

IMG_20180331_073236[1]

Jumat Agung tentu pakai penyembahan salib, ngabekti salib suci. Semua hadirin kecil besar tua muda pria wanita melakukan penyembahan salib. Di gereja-gereja besar dengan banyak umat, penyembahan salib membutuhkan banyak salib dan banyak waktu. Beda dengan di Gereja Cangkringan ini, hadirin sekitar 300an dengan tiga buah salib tidak butuh banyak waktu. Koor cukup hanya menyanyikan dua lagu mengiringi penyembahan salib itu.

Sedikit berbeda, mungkin khas di Keuskupan Agung Semarang, setelah penyembahan salib dilakukan pemberkatan benda-benda rohani melalui percikan air suci. Sebelumnya umat sudah diberitahu untuk membawa benda rohani seperti: salib, rosario, kitab suci, patung, dan benda rohani lainnya untuk mendapatkan berkat. Umat yang membawa benda-benda rohani mengangkatnya dan romo berkeliling untuk memberikan percikan air suci. Sementara itu altar dipersiapkan untuk komuni.

Sebuah pengalaman menarik: mengikuti pasio dalam bahasa Jawa dan pemberkatan benda rohani secara bersama. Mengikuti misa kudus dalam bahasa Jawa sudah kerap kali, di Gereja St. Franciscus Xaverius ini jika minggu ketiga setiap bulan misa diadakan dalam bahasa Jawa. Bahasa memang soal pengungkapan apa yang ada dalam hati, juga ketika berdoa. Tidak seluruh frasa atau kalimat dapat dimengerti, masih perlu banyak mengikuti misa bahasa Jawa, tapi memang terasa lebih menyentuh.

Berharap misa seperti ini, dalam bahasa lokal tetap dilakukan sesuai lokalitas masing-masing gereja. Meskipun gereja Katolik itu universal, sesuai dengan kata katolik, tetapi penghormatan kepada budaya setempat mendapat tempat istimewa, inkulturasi istilahnya. Pernah mengikuti misa di Bangkok dalam bahasa Thailand, sama sekali tidak ada satu kata pun yang dikenali, tetapi karena struktur misa yang sama tetap dapat mengikuti misa dengan baik. Tentu doa dalam hati tetap dalam bahasa Indonesia. :))

Jumat Agung adalah perayaan penuh kesedihan, muram namun tetap memberikan harapan bahwa Allah yang memberikan diri dalam Putra Tunggal, sengsara dan wafat untuk kita semua yang mempercayainya. Nanti pada KebangkitanNYA, semakin nyata cinta Allah kepada manusia. Allah menyertai manusia, mengatasi maut.

 

 

Dia Selalu Ada – Merapi

Beberapa foto menampilkan Gunung Merapi yang gagah, namun gumpil bila dilihat dari Cangkringan. Kadang Merapi mau menampahkan puncaknya yang gagah itu, kadang awan menutupinya. Tapi dia selalu ada di sana.

Pun bukan jepretan profesional maupun dengan gadget yang pro, tapi selalu bisa terlihat cantik dan gagah Merapi itu. Iya, bukan alatnya, bukan orangnya, Merapi yang jadi pusat perhatian.

Pekan Suci -2 – Kamis Putih

Kamis Putih

Memasuki Trihari Suci diawali dengan Kamis Putih untuk mengenangkan perjamuan Tuhan. Trihari Suci dikenal sebagai Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Vigili (Paskah) dan Minggu Paskah. Entah kenapa disebut trihari padahal kenyataannya ada empat hari. Mungkin karena Sabtu dan Minggu Paskah itu dihitung dan dianggap Sabtu. Padahal ya disadari bahwa Sabtu Vigili dan Minggu Paskah itu berbeda secara liturgis, tetapi yang sudah mengikuti Sabtu Vigili merasa bebas untuk tidak mengikuti Minggu Paskah. Itu pembahasan yang bisa jadi rumit. Ini tentang hal-hal yang sederhana saja.

IMG_20180330_084603_HDR[1].jpg

Di Gereja St. Franciscus Xaverius Cangkringan perayaan ekaristi dipimpin oleh Romo Robertus Hardiyanta, Pr. Beliau adalah Romo Paroki Babadan, paroki induk dari gereja stasi Cangkringan. Ada yang khas dari misa Kamis Putih yaitu pembasuhan kaki wakil umat oleh pastor pemimpin ekaristi dan perarakan pemindahan Sakramen Mahakudus sekaligus tuguran, doa menemani Yesus yang berdoa di Taman Getsemani.

Kamis Putih adalah perayaan mengenangkan perjamuan Tuhan. Yesus pada waktu itu merayakan Paskah Yahudi dengan tata cara Yahudi, seperti dibacakan di Bacaan Pertama dari Kitab Keluaran. Paskah Yahudi adalah peringatan akan bulan pertama dari segala bulan, dari setiap tahun. Untuk itu harus dirayakan oleh setiap keluarga. Banyak tata cara baik pilihan kambing atau domba yang disembelih, memanggang dagingnya, pakaian yang harus dikenakan, dan lain-lain.

Dilanjut Bacaan Kedua dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Korintus yang meneruskan bagaimana ekaristi, makan minum bersama harus dilakukan, seperti diajarkan oleh Yesus sendiri. ‘Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang (1Kor. 11:26)’. Murid-murid meneruskan apa yang dilakukan Yesus pada saat perjamuan terakhir. Inilah dasar biblis ekaristi kudus. Pada bacaan Injil yang diambil dari Injil Yohanes (Yoh. 13:1-15) menceritakan bagaimana Yesus menunjukkan teladan untuk membasuh kaki para Rasul. Ada penggalan tanya jawab antara Yesus dengan Petrus mengenai kenapa harus dibasuh kaki, bukan mandi? Ya, jika tidak dibasuh kaki bukan murid Yesus. Ya, cukup dibasuh kaki bukan mandi karena yang sudah mandi tidak perlu membasuh diri, cukup kaki.

Homili Romo Robertus Hardiyanta, Pr menekankan banyak hal dari mulai perayaan itu menjadi lengkap bila disertai dengan makan. Pada saat makan terlihat watak asli manusia: tamak atau sederhana. Satu yang mengesan: mengapa Yesus menyatakan sebuah perintah baru mengenai saling melayani, saling mencintai. Bukankah perintah di Perjanjian Lama juga sudah banyak perintah tentang saling melayani, saling mencintai? Apanya yang baru?

‘Jadi, jika Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Sebab Aku telah memberikan sesuatu teladan kepadamu, supaya kamu juga melakukan seperti yang telah Aku lakukan kepadamu.’ Perintah ini menjadi ‘baru’ karena bukan hanya perintah tetapi disertai dengan contoh, teladan. Yesus tidak hanya memberikan perintah tetapi contoh langsung dilihat para Rasul. Yesus mau, apa yang dilakukan, dilakukan pula oleh para murid. Kita harus saling melayani, mencintai sesama kita dengan dasar kita mengikuti apa yang dilakukan oleh Yesus untuk saling melayani dan mencintai.

Itu yang dibawa pulang kemarin sore sepulang dari gereja. Kita senang melakukan sesuatu untuk saudara kita tanpa pamrih karena meneladani Yesus. Bukan sesuatu yang kosong, tetapi ada semangat untuk meneladani Yesus, menjadi serupa denganNya, menjalankan perintah-perintahnya.

Ciao, kok jadi dalam banget begini. Maunya yang sederhana saja awalnya, tapi yawis begini saja.

Di akhir perayaan ekaristi, Sakramen Mahakudus diarak, dipindahkan ke tempat aula, tempat di mana nanti tuguran, doa semalaman akan dilakukan oleh umat. Sejak perayaan Kamis Putih berakhir gereja akan nampak muram, sedih untuk mengenangkan Sengsara Tuhan Yesus besok di hari Jumat.

Beberapa gambar yang sempat diambil.

 

 

 

 

 

Pekan Suci – 1 – Minggu Palma

Minggu Palma

Umat Katolik memulai Pekan Suci dengan perayaan Minggu Palma, Minggu Palem. Dalam masa prapaskah yang dimulai dari Rabu Abu maka Pekan Suci adalah minggu terakhir dari masa prapaskah. Kali ini cerita tentang  Perayaan Hari Minggu Palma di Gereja St. Franciscus Xaverius Cangkringan.

IMG_20180325_072309[1]

Seperti juga mungkin terjadi di paroki-paroki yang lain. Perayaan Minggu Palma dimulai dengan perberkatan daun palem yang dibawa umat dan perarakan. Perarakan ada yang dimulai dari lingkungan gereja sendiri atau dari tempat sekitar gereja. Di Gereja St. Fransiscus Xaverius Cangkringan – ini stasi dari Paroki Gereja St Petrus Paulus Babadan http://peterpaulbabadan.blogspot.co.id/ – perayaan Minggu Palma dimulai dari rumah seorang umat. Di rumah tersebut diadakan pemberkatan daun palem kemudian diteruskan dengan perarakan ke gereja, sekitar 150 meter.

Misa dimulai pukul 08:00 tetapi antusias umat sudah terasa satu jam sebelumnya. Mereka sudah berdatangan, terutama para petugasnya. Petugas koor berseragam, petugas liturginya bersiap. Beberapa gambar berikut ini merekam keadan itu.

Perayaan misa dipimpin oleh Romo Antonius Susanto, OMI yang dalam homili pendek setelah bacaan sebelum perarakan mengingatkan Yesus yang disambut sebagai raja memasuki Yerusalem adalah Yesus Sang Raja kita semua. Kita harus berani menyatakan: HOSANA bagi Yesus yang meraja di hidup kita. Beberapa gambar ini merekam suasana yang ada.

Perarakan dari rumah tersebut ke gereja melalui jalan desa (Jl. Dliring) kemudian melewati jalan utama Cangkringan. Petugas kepolisian ikut membantu mengatur lalu lintas. Pemuda dan pemudi desa membantu menyediakan tempat parkir dan mengatur jalan. Jelas tergambar kehidupan beradampingan yang penuh guyup, saling membantu, dan saling menghormati.

Perayaan Minggu Palma dilanjutkan perayaan ekaristi di gereja. Di Minggu Palma dibacakan Kisah Sengsara Tuhan dari Markus 15: 1-15. Dalam homilinya Romo Santo meminta umat untuk mengangkat daun palem dan mengucapkan HOSANA…HOSANA..HOSANA, setelah itu diminta meletakkan palem dan mengepalkan tangan sambil mengucapkan SALIBKAN DIA…SALIBKAN DIA…SALIBKAN DIA. Umat diminta merasakan apakah ada bedanya? Kemudian homili mengalir hingga bahwa Kristus sang Raja itu mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Selama pekan suci ini kita diminta untuk meresapi sengsara Tuhan Yesus sebagai silih atas dosa-dosa manusia.

Demikian reportase Perayaan Minggu Palma di Gereja St. Frasiscus Xaverius Cangkringan. Beberapa moment yang tertinggal.

Jika ada yang nanya: Kikhu dan Robyn di mana? Ya mereka mendapat tempat terbaik: di garasi saja :))

 

Perjalanan Ini

Masih belum subuh, jalanan masih kosong. Masuk tol BSD masih lengang. Banyaknya truk-truk pengangkut tanah. Berarti banyak pembangunan, kata Pawi. Ngebut aja terus. Sampai ketemu dengan tol Bekasi, barulah mulai tersendat. Penuh mobil dan truk-truk besar. Mobil kami yang kecil terselip di antara truk-truk besar, gandengan, atau kontainer. Terus tersendat sampai lewat Bekasi Timur. Ya tentu karena samping kanan dan kiri jalur tol sedang ada pembangunan. Mereka aktif kerja di malam hari. Jam-jam segitu sepertinya lagi banyak keluar masuk kendaraan proyek. Sejam lebih BSD – Bekasi Timur.

Tapi kemacetan masih berlanjut, setelah sempat lancar sebentar, memasuki Karawang. Ini lebih parah dari kemacetan yang tadi. Mobil sering terpaksa berhenti. Kasusnya sama, pembangunan di sebelah kiri dan kanan jalur tol ke arah Cikampek. Pekerja proyek sedang sibuk tugas masing-masing. Sudah hampir jam lima pagi melewatinya, dua jam untuk jarak 70-80 km. Masih normal jika itu bukan tol dan tidak di pagi hari sih.

Mungkin memang bukan waktu yang tepat memasuki tol Cikampek di malam, dini dan pagi hari. Itu saatnya mereka bekerja. Kendaraan proyek keluar masuk tentu mengganggu arus tol. Kendaraan yang besar dan panjang tentu akan memakan waktu lebih lama untuk sekedar masuk ke lingkungan proyek. Apalagi dengan bawaan betol yang terlihat berat betul.

Pawi bilang, niatnya jalani saja yang ada, lancar atau pun macet. Nikmati dan syukuri. Meski mereka sering bilang begitu tetapi ya ada juga masanya tidak bisa terima keadaan, ada gerutu.

‘Dasar manusia, ya Byn’ udah sadar tapi masih menggerutu. Banyak menggerutu itu ndak sabar. Mending kayak Robyn, kalau bosen dia lihat melalui jendela truk-truk besar yang sedemikian banyak. Terus tidur lagi deh.

Tidak banyak bisa diceritakan tentang perjalanan ini. Kecuali dua: memasuki kota Pekalongan dan jalur naik turun di Batang. Pekalongan (kabupaten maupun kotamadya) dilewati jalur truk dan bis, mereka tidak punya jalur khusus yang melingkar seperti di Kendal misalnya. Jadi bus dan truk besar itu masuk ke dalam kota, bersaing dengan angkutan kota, becak, motor, dan pejalan kaki. Lampu lalu lintas menjadi pemecah antrian saja. Jumlahnya yang banyak, karena banyak persilangan, membosankan. Padahal di lampu lalu lintas itu kesempatan buat menyusul truk-truk besar yang agak lambat akselerasinya.

Batang, menjelang alas roban, jalanan sudah bagus dengan beton yang kuat. Tapi kontur tanah yang naik turun itu membuat banyak kendaraan berat tertatih-tatih membawa beban. Antrian sekitar satu dua kilometer dengan kecepatan nol kilometer terjadi.  Penyebabnya: satu truk besar mogok di kiri dan satu pasang truk (truk besar digandeng truk yang lebih besar lagi) yang jalan terlalu pelan di sebelah kanan. Lewat itu ya sudah lancar. Sekitar satu jam untuk lolos dari antrian itu.

Tapi yawis itulah hidup.

Perjalanan selanjutnya lancar, sekitar jam empat sore sudah sampai di rumah cangkringan. Hilang kesal, penat, cape dan boring. Teman-temanku menyambut. Mereka berebut foto bersama aku dan Robyn. Kami berdua jadi kayak selebritis. Tapi Pawi dan Buni terlalu capai untuk mengabadikan kejadian ini.  Tapi kami tahu foto kami dengan mereka tersebar melalui Line dan FB. Kok tahu? Lha malam ada yang datang cuma untuk berfoto bersama kami setelah melihat temannya memposting fotonya di Line dan FB. Guyup, menyenangkan.

Berakhir juga puasa kami. Kami makan dengan antusias dan yang lebih penting Kikhu tidak mabuk dan muntah. Sambung cerita yang lain.