Unboxing Buku Perdana

Sudah sekitar setahun mengumpulkan bahan untuk menulis buku ini. Kerangka sudah dibuat Oktober 2016. Bahannya sudah banyak banget.

File pertama juga tahun 2016 lalu tercipta. Sudah 30 halaman file word, diedit kembali dan dibuang hampir 20 halaman. Kenapa? Karena awalnya pingin memberi pemahaman mengenai statistiknya. Berubah pikiran, karena menyadari kurang paham formula statistik.

Sekitar awal tahun dapat buku yang mencerahkan. Auditor tak perlu harus menguasai statistik. Audit sampling dapat didekati dengan prosedur nonstatistik. Standar auditnya bilang begitu. Jadi semangat untuk menulis lagi. Memahami statistik, tidak harus ahli statistik.

Menulis terus sesuai kerangka tapi tidak kronologis. Putus sambung nulisnya. Baru menulis full pas libur panjang lebaran 2017. Pake nazar, tidak potong kumis dan jenggot bila naskah belum selesai. Tiap hari menulis dari jam 2 pagi sampai 11 siang, nonstop. Sambung 4 sore 8 malam. Terus tidur. Paginya menulis lagi. Begitu terus.

Hari pertama masuk kerja selepas libur lebaran, naskah belum selesai. Terpaksa masuk kantor dengan wajah berantakan kumis dan jenggotan. Tapi jadi pendorong kuat buat menyelesaikan naskah. Hari Rabu sudah masuk kerja dengan wajah rapi. Naskah selesai. Tinggal edit sedikit dan tabel-tabel.

Akhirnya jadi lengkap dengan tabel-tabel yang dibutuhkan. Dibuatlah final-draft untuk dikirimkan kepada penerbit. Ada teman di Penerbit Kanisius yang membantu. Akhirnya selesailah buku perdana ini. Sabtu kemarin, 09/09/17 kiriman buku itu sampai ke rumah. Siap untuk dikirimkan kepada para pemesan. Tentang isinya, nanti cerita di-post yang lain.

 

Advertisements

Pulang Balik

Sudah dua hari ini Buni sibuk, cucian banyak, belanja oleh-oleh, dan packing ke koper maupun ke box. Iya packing ke box untuk barang-barang rumah tangga yang tidak akan terpakai: kompor, panci, piring, gelas dan macam lainnya. Jika tidak liburan, rumah kosong dan belum ada almari buat simpan itu semua. Demi aman dan bersihnya, kata Buni, semua masuk box plastik. 

Buni sibuk packing kami, Robyn Kikhu, sibuk kepo yang dilakukan. Endus sana sini. Siapa tahu ada potongan atau remah yang bisa diberikan ke kami. Tepatnya buat Robyn yang hidup utama buat makan.

“Sama olah raga lari eh, jadi badanku berisi gini” celetuk Robyn. 

Buni pernah cerita waktu kami umur 3 bulan, Robyn pernah makan sobekan kain keset. Terus kontipasi sampai pingsan dan dibawa ke dokter. Di opname sehari. Tuh akibat makan semaunya. Makan tuh mesti lihat-lihat, jangan semua diembat Ing. 

Oiya Pawi kasih nama panggilan sayang ke kami masing-masing: I-Ung dan O-Ing. Masing-masing buat Kikhu dan Robyn. Kami sih seneng aja diundang pakai nama apa juga. Yang penting, setelah diundang kami diberi makan, diberi pelukan, diajak bermain. Jangan diberi sentil kalau kami nakal. Itu bukan diundang tapi dihardik.

Masih gelap, dingin Buni sudah kasih makan kami. Kami lahap meski terasa ada rasa antimo, obat anti mabok. Main halaman sebentar, kencing sana sini. Yups bener, pagi ini kita balik. Kami masuk di bagasi yang kursinya sudah dilipat. Yehaaaaaa. 

Meluncur kencang menembus kabut mengikuti kelok jalan desa. Pintas lewat Turi langsung sampai Tempel. Ada sedikit insiden salah jalan. Sebelumnya Pawi sudah menandai kapan mesti belok kiri dan kapan mesti langsung jika ketemu perempatan. Entah kenapa, Pawi merasa sudah pilih lurus tapi kok nyatanya salah jalan. Gak sampai 200 meter, disadari terus puter balik. 

Sambil masih bingung, “udah ya aku anterin sampai sini, baik-baik semua” kata Pawi. Buni kaget. Kok. “Iya siapa tahu ada yang numpang tadi dan minta dianterin. Inget khan kepulangan kemarin juga salah jalan di sini. Padahal jelas kita tidak ambil jalan ke kiri tadi.” Jelas Pawi. Iyalah, susah pasti dijelasin. Buni dan Pawi saja bingung begitu, apalagi kami. 

Kelok jalan naik turun, mengocok perut kami. Belum berhenti pertama, aku muntah. Ada yang lucu, Robyn menghindari dengan naik ke atas tumpukan tas. Ini gambarnya:

Sebelum masuk jalan alternatif Ambarawa, kita minggir di SPBU. Buni Pawi pipis dan cuci muka. Tentu ngantuk ya, apalagi dingin banget eh. Lanjut. 

Kejadian lagi deh. Kami naik-naik tumpukan kardus dan tas. Mepet ke jendelan tiba-tiba: WUSSSSS angin kencang masuk mobil. Aku kaget mau locat ke depan. Takut banget. 

Saat itu Pawi lagi berusaha menyalib mobil depan yang jalannya juga gak pelan, di jalur kanan. Arah depan juga ada sinar lampu, berarti ada kendaraan. Waaaaa untung bisa balik ke kiri. Sambil masih kencang, Pawi tutup jendela kiri belakang. 

Yah gegara itu children window tidak dikunci, keinjek aku ketika berusaha naik, jendela terbuka. Kaget banget. Ampun deh. Pawi mesti cek semua sebelum jalan ya. Jangan kejadian lagi. 

Semarang cepat terlewati, masih pagi, juga Kendal. Terus sampai Batang, Alas Roban. Pawi pinggirin mobil. Istirahat. Kami jalan-jalan sekitar, endus dan pipis sana sini sama Pawi. Buni bersihin alas kami. Minum agak banyak. Tapi tanpa makan. 

Hati-hati Byn, kalau direm mendadak bisa jatuh lho. 

Lanjut jalan. Gak ada yang diceritakan. Berhenti lagi di SPBU Muri, sudah 350an kilometer dari Rumah Karanglo – Wilest Wisma Kasepuhan begitu tag di Google Maps- saatnya isi bahan bakar. Juga sarapan buat Pawi Buni. Kata Buni di perhentian ini arem-aremnya oke banget. Kami jalan-jalan sekeliling aja. Aku masih minum, Robyn tidak. Dia kepayahan juga mabok. 

Terus masuk tol aja. Di kepulangan terdahulu, Buni gantian mengemudi. Pawi ngantuk berat. Kali ini tidak, lanjut terus. Lancar jalannya. 

Sampai ke Tol Cipali, ada kejadian lagi. Kuku kakiku nyangkut di rantai. Aku gak bisa apa-apa. Buni dan Pawi gak tahu, Robyn angler di atas tumpukan kardus. 

Betapa tersiksa. Kuku polidaktilku nyangkut di rantai. 

Berhenti lagi di rest area kedua Cipali. Pawi menyadari ada yang tidak beres dengan diriku. Dibantu Buni, beres deh. Tapi kakiku terasa gak enak banget. Kami gak turun, hanya dikasih minum dingin. Aku minum banyak. Robyn gak mau minum. 

Selanjutnya gak ada yang istimewa, tol terus hingga sampai kilometer 600an, dihitung dari titik berangkat, sampailah rumah BSD. Total waktu dua belas jam dengan berhenti, tanpa insiden bahaya. 

Pas kami turun, eh di halaman ada Si Putih. Langsung kami semangat. Kami ajak dia bermain tapi dia anggap kami mau nakal. Sempet cakar muka kami. Aduh. 

Segitu cerita Pulang Balik kali ini. Lanjut nanti cerita berikutnya. 

Arah jarum jam: kami menikmati panas yang sejuk, Robyn yang ngintip ketika ditinggal Buni turun, Kikhu dengan perut gendutnya, Robyn ganteng, dan kesialan Kikhu. 

Seksi, Seket Siji

Sebelas Januari merupakan hari yang menyenangkan bagi Pawi. Selalu pada hari itu Pawi membuat sesuatu yang istimewa. Bisa makan di luar, bisa main entah kemana, bisa hanya ke gereja pagi, atau apa pun tapi khusus dilakukan hanya di tanggal itu. Khususnya lagi karena itu dilakukan untuk Buni.

Perjalanan liburan kali ini sepertinya dilakukan karena semangat membuat sesuatu yang berbeda. Beberapa waktu yang lalu Pawi melihat kalender, mengamati, 11 Januri 2017 jatuh di hari Rabu. Pas banget. Disusunlah rencana liburan di Cangkringan. Sekalian bisa ikut misa pagi di Gereja St. Fransiscus Xaverius Cangkringan. Di gereja ini misa pagi hanya dilakukan di hari Rabu dan misa Minggu dilakukan sekali mulai jam 9 pagi. Agak siang karena sepertinya menunggu misa di Gereja Babadan selesai. Gereja Babadan adalah gereja induk dari Gereja Cangkringan. Gereja Cangkringan yang masih berstatus stasi atau wilayah dari Gereja Babadan, jadi urusan paroki masih di Babadan.

Jadi 11 Januari 2017 ini adalah hari istimewa buat Buni, umurnya sudah mencapai seksi, seket siji atau limapuluh satu. Sebuah umur yang tidak sedikit. Dari yang sudah banyak itu, sepertinya separohnya dijalani bersama Pawi. Inget mereka tahun lalu berulang tahun perkawinan yang ketiga windu, 24 tahun. Tahun ini nanti 25 tahun, seperempat abad, pesta perak. Tapi Pawi dan Buni tidak berniat untuk memestakan pesta perak. Pestanya sudah tahun kemarin: tiga windu.

Yawis jadinya pagi itu, masih pagi banget, kami – Robyn dan Kikhu – sudah dikeluarkan dari garasi, tempat kami semalaman menikmati tidur. Masih gelap dan dingin, sekitar waktu selesai subuh. Lari-lari kecil di halaman depan dan samping rumah. Seger nian. Tak lama kami kembali digiring masuk garasi. Kami tahu, pasti kami akan ditinggal. Selalu begini, jika mereka pergi dan tidak mengajak kami, kami selalu dikurung di garasi. Kami tahu diri, sebab tak kuat perasaan kami untuk loncat pagar yang tidak tinggi itu bila di luar sana ada yang menarik hati. Jika itu terjadi, kehebohan terjadi. Ribut sana-sini, panggil Kikhu Robyn. Padahal kami sedang merasakan liburan yang sebenarnya.

Mereka pagi itu ke gereja. Tentu mengucap syukur atas apa yang telah terjadi pada Buni dalam umur lima puluh satu. Syukur atas Penyelenggaraan Ilahi sehingga bisa menikmati hari sampai hari ini. Tentu boleh berharap, masih akan menjalani terus kehidupan ini hingga nanti harus kembali. Menjalani hidup yang memberikan arti pada kehidupan, pada sekitar, dan tentunya pada Allah Sang Pemilik Hidup Sejati.

Tidak terlalu lama, mereka kembali dan mengajak kami jalan-jalan. Inilah saat paling menyenangkan. Berjalan menyelusuri jalan desa, menikmati pagi, menikmati Merapi yang tipis terselimuti awan, menyapa senyum orang-orang berangkat kerja, ke sawah, atau anak sekolah berangkat sekolah. 

Pagi dingin yang tidak terburu. Pagi dingin yang tidak dikejar waktu. Sambil berbincang ringan, saling memuji, atau hardikan lembut buat Robyn yang selalu mempunyai kemauan sendiri. Robyn itu sukanya hanya jalan ke depan, baik tarik ke kanan atau ke kiri, tanpa menikmati apa yang adda di sekitar kaki. Beda sama aku yang selalu menikmati setiap langkah kaki. Menghirup udara, membaui semak dan rumput, berjalan ritmis. Bila perlu berlari kecil untuk berolah raga. 

Sebuah pagi yang sempurna. Sedang siang kadang kejam dengan panas yang menyengat atau hujan yang melebat.

Berikut beberapa foto ilustrasi yang tidak nyambung. 

Robyn-Kikhu, melongok melihat apa yang terjadi di balik pagar. 

Robyn di kiri dan Kikhu di kanan, selalu begitu jika hendak makan.

Kikhu dengan perut gendutnya.

Mudik Berlibur

Pas tanggal 1 Januari 2017 kemarin, kami berdua, Robyn dan Kikhu, dimandikan. Jadi bersih tapi tidak wangi. Kulit Robyn sensitif, jika kena sampo wangi jadi gatel. Kemarin Buni beli sampo yang tanpa wewangian. Tetap fresh dan lembut sih. 

Mandi itu sepertinya pertanda, kami akan diajak mudik. Buni Pawi jarang memandikan kami, biasanya hanya diusap dengan kanebo basah dengan air pakai dettol. Kami mandi jika ke Rumah Terraria, mandi berenang. Tapi aku tidak begitu suka. Robyn apalagi, kayak trauma.

Benar pertanda itu. Jumat malam kursi mobil belakang dilipat, terus koper dan tas ditaruh mepet di lipatan kursi, ditutup pakai plastik, diikat kuat. Kata Buni, biar aman dari pipis kami. Padahal susah banget pipis di mobil dan bergerak. 

Plastik dan kain pelapis dihamparkan. Jelas ini akan jadi tempat kami. Jelas kami akan diajak dalam perjalanan panjang. Packing selesai. Asyik. 

Pagi masih sekira jam 3, Sabtu 7 Januari 2017 dini hari ya, kami sudah dibangunkan. Makan dengan porsi kecil, sepertinya dicampur antimo. Tentu maunya biar kami tidak mabuk. Belum jam 4, mobil berangkat. Pawi depan setir, Buni sebelahnya. Kami menguasai bagian belakang. Lega. 

Tidak banyak yang diceritakan selama perjalanan, biasa saja. Kecuali karena boring, Robyn naik ditumpukan koper. Duduk enak di situ. Tapi gak lama, Buni usir Robyn. 

“Eh, bahaya itu. Bisa ganggu pengemudi” sambil dorong Robyn turun. Mobil oleng dikit. Sepertinya asyik duduk di situ. Aku coba duduk juga. Tapi kupilih di belakang Buni. Iya enak, kayan duduk di bangku. Buni gak mengusir, tapi aku bosen juga akhirnya.

Perjalanan berhenti tiga kali. Sekali di rest area Cipali. Enak ini tempatnya luas. Kami bisa jalan-jalan lumayan. Sekali lagi di SPBU MURI. Sepertinya Buni sekalian beli makanan buat sarapan dan makan siang. Nasi Megono, telor asin, gorengan dan arem-arem. Tapi kami gak diberi makan. Minum aja. 

Masuk kota Pekalongan macet, ada jalan ditutup dan terpaksa lewat jalan alternatif. Macet karena jalan kecil dan ada yang parkir. Gantian jalan tapi gak tertib. Kadang saling serobot. Manusia memang suka begitu. 

Kami kepayahan sejak Pekalongan ini. Aku mabuk. Kain pelapis jadi basah dan kotor. Pawi akhirnya ambil jalan yang bisa minggir di Batang, jalan alternatif Alas Roban. Berhenti lagi. Lumayan ilangin boring dan capek. Makan sedikit dan minum banyak. 

Robyn milih jalan saja yang banyak, jauh.Tentu bikin kesel mereka. Buni bersihin bagasi, Pawi ajak jalan kami. Kata Pawi, kalau kami nakal akan ditinggal dituker durian. Tentu itu candaan. Mereka tuh sayang banget ke kami kok.

Lanjut jalan lancar sampai lewat Ambarawa hujan. Asyik jadi dingin di dalam mobil. Asyik buat tidur. 

Beginilah enaknya kami tidur. Foto diambil Buni. 

Kami tidur terus. Sampai macet di Mertoyudan gegara banjir pun tidak kami tahu. Hujan lebat sekali ketika lewat Muntilan. Lebat hingga ga kelihatan jalan, kata Pawi. 

Kami ambil jalur alternatif Tempel-Turi-Pakem-Cangkringan. Jalannya halus meski agak sempit. Setelah hampir total 12 jam, sampai kami di rumah Karanglo – Cangkringan. 

Horeeeee akhirnya sampai. Ini bentuk kami gak sabar nunggu pintu bagasi dibuka:

Pawi sudah tag di Google Maps: Wilest – Wisma Kasepuhan. Silakan yang mau main. 

Sekian rekaman perjalanan mudik kali ini. Berlibur, begitu tema mudik kali ini kata Pawi. Semoga bener berlibur, kami bebas ngapa-ngapain.

Ciao dari Kikhu

Bersyukur, Catatan Kikhu-Robyn Mudik-2

Setelah melewati 607 kilometer, tiga kali pitstop (ceile gaya lho Khu, itu celetukan Robyn, padahal mabuk tuh), kami sampai di Dusun Karanglo, Cangkringan, Kabupaten Sleman. Hilang semua bete dan boring, lenyap semua capai dan kesal begitu kami sampai di rumah mungil ini. Bagaimana tidak, meriah sambutan teman-teman baru di sini. 

Bersyukur banget tidak ada aral melintang, lancar jaya. Pawi cerita pada sebuah kepulangan mereka pernah mengalami perjalanan yang sama selama dua puluh jam! Perjalanan kami total sekitar 10 jam saja sudah merupakan pengalaman menyiksa pada sepertiga perjalanan tengah, apalagi itu dua kali lipatnya. Itu alasan sederhana untuk bersyukur.

Aku memang mabuk di kendaraan. Perjalanan ke Rumah Terraria yang hanya sekitar satu jam dari rumah, pakai jalan rusak dan macet, sudah membuat aku kliyengan. Ini sekitar sepuluh kali lipatnya. Bayangkan sendiri. Mabuk abis nih. Apalagi Buni lupa tidak sempat memberi antimo, obat anti mabuk itu. Lupa atau sengaja agar aku terbiasa. Tapi mereka menerima akibatnya: aku muntah, sarung jok mobil tambahan jadi korbannya. Biar besok dicuci. begitu ringan komentar Buni. Pawi dan Buni memang kadang enteng begitu jika ketemu masalah. 

Bersyukur, itu juga tema yang Pawi dan Buni canangkan pada kepulangan ini. Mereka memang suka membuat tema pada perjalanan-perjalanan yang mereka lakukan. Ada Prihatin, Berkunjung, Menengok, Dolan dll. Bersyukur tentang apa ? Mengapa Bersyukur jadi tema kali ini? Begini catatan Pawi yang sempat diedit sama Buni. 

23 Agustus 2016 ini tepat 3 windu usia pernikahan kami. Ya sudah 24 tahun. Kami selalu sedikit membuat perayaan pada peringatan setiap windu usia pernikahan. Pernikahan adalah kekal sehingga ukuran tahun begitu pendek. Ukuran windu, delapan tahun sekali, rasanya cukup jadi penanda. Sebetulnya ada lustrum, ukuran lima tahunan, tapi windu rasanya lebih gaya hahahahahaha.

Tiga windu itu berarti sudah 8.760 hari atau 757.382.400 detik bersama. Memang belum masuk dalam hitungan milyar, satuan yang sering muncul dalam kasus korupsi apalagi trilyun, satuan yang sering digunakan jika kita bicara anggaran. Tapi jelas itu sebuah ukuran waktu yang tidak sebentar. Banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu itu. 

Sebuah perkawinan utuh berumur 24 tahun saja sudah jadi alasan untuk bersyukur. Banyak perkawinan tidak mencapai umur itu. Boleh merasa bersyukur karenanya. Apalagi perkawinan ini tanpa anak, kami terus berdua. Kehadiran buah hati tentu sangat kami rindukan, tentu kami usahakan, berdoa tentu tak lupa. Hanya setelah windu kedua kami bisa terima kondisi yang ada. Tidak ada usaha lagi, tidak ada kesal marah, iklas saja. Tuhan bermaksud tertentu pada perkawinan kami ini.

Banyak hal terjadi pada 24 tahun itu menjadi sebab kami angkat tema Bersyukur. Wujudnya kami merayakan misa pagi di Gereja St. Fransiskus Xaverius – Cangkringan Sleman di persembahkan oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr.

Bersama Romo Robertus Tri Widodo, Pr.

Lagu pembukaan Nderek Dewi Maria dan bacaan Injil Yohanes tentang Nathanael Bartolomeus, seorang rasul yang bukan berasal dari kalangan nelayan seperti rasul yang lain melainkan seorang petani. Bartolomeus disapa secara khusus oleh Yesus. Rasanya kita semua juga mendapat sapaan khusus dan pribadi dari Tuhan Allah Sang Maha Kasih. Tentu kita mau ikut Maria yang juga diundang khusus oleh Allah menjadi Bunda-Nya, Bunda kita semua yang percaya. 

Bersyukur bukan berarti dua puluh empat tahun baik-baik saja. Itu jelas mustahil. Badai juga menerjang seperti mungkin keluarga yang lain. Kesulitan menghampiri juga meski tidak tiap hari. Semua terjadi. Tapi perkawinan ini melebihi ego kami. Setipa kali terjadi, ego salah satu dari kami membesar atau tersinggung, selalu balik ke apa mau dengan perkawinan ini dulu. 

Sakramen perkawinan kami, 23 Agustus 1992 di Gereja Hati Kudus Yesus – Pugerab, Yogyakarta dipimpin oleh Romo Noto Susilo Pr. Detailnya tentu diingat dari foto dokumentasi. Tapi janji perkawinan kudus, itu kami ingat, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, suka dan duka selalu bersama. Itu yang membuat kami kuat untuk bersama. 

Begitu tulisan Pawi. Mungkin kepanjangan, mungkin kurang panjang. Silakan komentar nanti Pawi atau Buni yang jawab. Itu teman-teman sudah ramai di halaman depan. Sudah panggil-panggil Kikhu-Robyn, mengundang bermain. Sebagian lagi pingin selfie bareng aku atau Robyn buat pamer di grup atau facebook mereka. 

Tambahan ini oleh Robyn:

Kikhu tidak cerita soal mabuk dan muntah. Mungkin malu ya. Aku sih cuma boring aja. Tiga kali berhenti cuma jalan dikit dan bentar, gak cukup buat liat semua. Gimana gak bosen, duduk cuma liat Kikhu mabuk, bosenin mukanya. Tidur juga gak bisa. Lihat jalan ya cuma gitu aja. Beneran bosen. 

Itu gaya Kikhu bosen waktu dikasih tahu ada yang bisa dilihat dan mukaku yang boring abis, diabadikan sama Buni

Tapi aku senang di rumah sini, halamannya luas. Rumputnya belum bagus, pohonnya belum besar tapi dingin. Wis enak pokoknya. 

Cangkringan, 24 Agustus 2016, sore yang indah, Kikhu.

Kikhu dan Robyn Mudik-1

Entah mengapa akhir-akhir ini Pawi dan Buni sering banget tanya: mau ikut ke Cangkringan ? Kamu kalau di sana pasti senang, halamannya luas, adem. Kikhu jangan mabok ya. Perginya lama, tidak seperti pergi ke Terraria tempat menginapmu. Kali ini kita akan ke Yogyakarta. 

Banyak kata dan cerita yang disampaikan. Kami berdua diam saja tapi seolah tahu apa mereka kata dan tanyakan. Pas 17 Agustus 2016 kami dimandikan. Pakai samphoo. Seger dan wangi jadinya. 

Itu foto kami dua hari setelah mandi. Masih ganteng khan ? Meski tidak lagi putih warna kaki kami. Kami lebih suka main di kebun daripada di dalam rumah. Jika kaki Robyn ada coklatnya, itu bukan kotor. Itu kaos kaki yang lupa dilepas ketika kami lahir. Jadi deh begitu.

Kemarin Buni sudah pasang sarung jok mobil khusus. Kami tahunya, jika itu dipasang maka kami akan banyak jalan-jalan pakai mobil. Kami ditaruh di bagasi. Berdua dengan Robyn ya muat sih. Dulu ketika masih ada Karlos, bagasi diperluas, kursi dilipat dan diberi alas multipleks. 

Mungkin ini perjalanan panjang ya. Ah semoga meski panjang, nanti akan banyak berhenti sekedar meluruskan kaki. Soalnya susah berdiri kalau di bagasi. Enaknya duduk atau tiduran. Robyn tuh yang sering nakal, jika mobil berhenti dan kami boleh turun, Robyn pasti berniat lari. Padahal khan tidak kenal daerahnya. Kalau tersesat gimana coba? Itu sebabnya kalung dan tali kami tetap dipasang. 

Okay segitu dulu teman. Doakan perjalanan kami lancar dan tanpa halangan. Penting nih: aku tidak mabok. Hihihihihi

ttd

Kikhu

Akhir Si Pintar Karlos

27 November 2015, Jumat Kliwon, sore itu tidak terlihat mendung apalagi hujan. Langit cerah. Tapi tidak bicara apapun kecuali kekhawatiran. Sore itu kekhawatiran terjadi. Karlos mati.

Ya, Karlos mati. Setelah 10 hari tidak mau makan. Makan harus menggunakan suntikan, dan selalu diikuti muntah setelah dia minum banyak-banyak air putih, hidup Karlos berakhir. Mati.

Selama sakit 10 hari itu, dua kali sudah visit dokter, sekali di bawa ke klinik, dua macam obat diberikan, sempat diinfus, diberi minum Pocari, berat badannya tinggal sekitar 25 kg dari biasanya 34 kg.

Ini fotonya di meja periksa dokter di Klinik Laras Satwa BSD.

IMG_8216

Malam itu Karlos sudah lemah sekali. Tidur mengangkat kepala saja sudah payah. Itu hari Minggu, 22 November 2015 kira-kira jam 10 malam ketika klinik pun seharusnya sudah tutup. Dia diambil darah untuk pengecekan. Malam itu dia diinfus dan terlihat lebih segar paginya. Tentu kami berharap banyak, Karlos sembuh, meski pada infus botol kedua tidak mau mengalir. Diputuskan dicabut infusnya.

Dokter hewan Fauzan menyarankan untuk dirawat paling tidak ketika harus diinfus, tapi di klinik itu tidak ada kandang besar. Klinik-klinik yang lain sekitaran rumah sudah tutup. Waktu itu sudah tengah malam. Kami membenarkan diri untuk tidak menitipkan karena kami ingin merawat Karlos dengan tangan kami. Kami tidak ingin Karlos merasa dipisahkan atau bahkan dibuang karena harus menginap di penitipan atau klinik hewan. Biarlah dia berada di antara kami.

Dari hasil pemeriksaan darah diketahui fungsi ginjal sudah terganggu. Bisa karena umur, ya Karlos sudah 9 tahun umurnya, sebentar lagi 10 Januari dia berumur 10 tahun. Bisa karena leptopirosis. Bisa karena dua-duanya. Waktu itu kami sudah kecil hati, mengingat serangan lepto sangat sulit diatasi kecuali diketahui dini. Begitu hasil kami baca-baca.

Selama sakit Karlos tetap anjing yang cool. Ketika teman-temannya, kami punya dua ekor beagle jantan, diajak jalan keluar rumah, Karlos nunggu di pintu pagar, minta ikut. Meskipun akhirnya hanya menggelosor di depan pagar. Ketika kami pergi, pandangan matanya tetap mengantarkan seperti biasa. Ekornya tetap dikibaskan ketika tahu kami datang atau menyebut namanya. Hanya kali ini tidak ada gonggongan manja.

Akhirnya setelah kami berdua tidak bisa menyelesaikan lubang kuburnya, ternyata memegang cangkul berat banget, dibantu oleh tukang bangunan kubur Karlos jadi. Dan Karlos pun dikubur di bawah pohon belimbing depan rumah. Penasaran lihat Karlos terakhir kali ? Ini dia.

IMG_8220

Karlos dibungkus dengan handuk mandi dan kain alas jika Karlos ikut duduk di bagasi mobil.

Tangis, tentu. Kami kehilangan sahabat yang tidak pernah mengeluh, tidak pernah menuntut, selalu ceria dan bersemangat. Karlos adalah obat mujarab stress kami. Karlos adalah bagian dari kami.