Bermain Kata – Kali Ini Lewat Puisi

Bermain Kata
Kali Ini Lewat Puisi

Resensi Buku:
Bermain Kata Beribadah Puisi
Penulis: Joko Pinurbo
Editor: Tia Setiadi
Halaman: 263
Penerbit: DIVA Press
Desember 2019

Kata-kata memang bisa dibuat main-main. Dalam budaya lisan, permainan kata-kata banyak jenisnya. Parikan misalnya dibedakan dengan kata-kata mutiara karena menggunakan metrum dan kaidah tertentu. Dalam budaya tulis, puisi termasuk alat mempermainkan kata-kata untuk menyuguhkan suasana baru, imajinasi baru.

Joko Pinurbo, Jokpin, sebuah nama yang sudah lama dikenal. Entah muncul di mana, tapi rasanya sudah lama banget kenal nama itu. Entah di majalah Basis (lama) yang masih ukuran kecil dengan redaktur Pater Dick Hartoko atau ukuran majalah biasa dengan redaktur Romo Sindhunata. Atau malah di kolom puisi Kompas (koran yang saya langgani), entah di mana. Tapi soal Celana dan Pas Kah, tentu mengundang senyum yang setiap tahun hadir. Kata ‘jokpin’ langsung terbayangkan ‘puisi, sajak’ bukan ‘jokowi’ atau ‘jok motor’ meskipun berawalan huruf yang sama.

Pun ketika muncul novel pertamanya: Sri Menanti (GPU, 2019), saya segera cari novel ini dan ketemu di Gramedia Pasar Baru Jakarta. Buku kumpulan puisi Jokpin sendiri belum ada yang saya koleksi. Sebab dengan teknologi sekarang, puisi mudah sekali dinikmati tanpa harus membeli buku kumpulannya. Hingga suatu saat kantor mengadakan acara tahunan: festival literasi (feslit) dan pada acara hari pertama menghadirkan: Joko Pinurbo. Segera mendaftar, segera hadir di ruang Dhanapala waktu itu. Tak lupa bawa novel Sri Menanti, rencana minta tanda tangan. Dapat.

Jokpin memaparkan proses kreatifnya, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta. Jokpin tidak seperti puisinya yang lucu meminta perhatian. Waktu itu dia tampil dengan pembukaan: cocok ini saya berbicara menabung karena diundang oleh Kemenkeu, tapi saya menabung kata-kata. Kemudian meluncurlan berbagai cerita, berbagai trik, berbagai sudut pandang, dari seorang Jokpin terlebih untuk puisi dan novel pertamanya itu. Maka ketika di linimasa twitter melintas tawaran buku ‘Bermain Kata Beribadah Puisi’ ini, langsung pesan. Begitu datang, 4-5 hari kemudian langsung baca.

Buku Bermain Kata Beribadah Puisi bagi saya seperti bentuk lengkap dari uraian Jokpin di acara feslit waktu itu. Dibuka dengan cerita bagaimana Jokpin terpukau dengan puisi Sapardi Djoko Damono. Bedanya di feslit, diceritakan proses kreatif bagaimana Sri Menanti itu lahir. Novel yang lahir dari puisi yang kemudian dibuat cerpen “Sebotol Hujan untuk Sapardi” (Kompas, Minggu, 10 Juni 2015) dan baru jadi di 2019. Lima tahun menggarap novel.

Sedangkan buku ini banyak bercerita ke mana-mana. Jokpin cerita tentang proses kreatifnya. Bahkan dalam sub judul ‘Kiat’ ada tiga kiat dari Jokpin yang disampaikan. Nganga Sunyi: Membaca Puisi di Atas Puisi, bahwa membaca puisi merupakan upaya menciptakan atau merangkai dunia makna yang mengasyikkan, yang memerlukan kelenturan dan keliaran imajinasi. (hal. 83). Pada judul ‘Puisi Bukan Sekedar Curhat’ disampaikan langkah pertama adalah mencatat. Ide atau suasana tertentu yang menggelitik pikiran dan perasaan, sifatnya sesaat, tak tergantikan, tak bisa diulang. Supaya tidak menguap, ide atau suasana yang mengelitik itu harus secepatnya diabadikan. Caranya: mencatatnya..

Dicontohkan oleh Jokpin bagaimana puisi berjudul Penumpang Terakhir –untuk Joni Ariadinata itu tercipta. Pembaca dapat belajar langsung bagaimana mengolah ide menjadi sebuah sebuah puisi. Tapi khan kadang kata-kata itu sudah dikatakan penyair lain, penyair terdahulu dan menjadi usang. Sebuah tantangan menarik bagi seorang penulis puisi adalah bagaimana menghidupkan kembali kata-kata yang sudah usang, klise, memberi nyawa baru pada hal-ihwal yang sudah bekas. (hal. 89). Disimpulkan: Singkatnya puisi adalah curhat yang telah disublimasi, diolah dengan perenungan dan penalaran, dan divisualisasikan dengan kecerdikan memainkan kata-kata. (hal. 95)

Kiat ketiga dalam menulis puisi ada pada judul ‘Menulis dan Menyunting Puisi’ yang berisi contoh dan poin-poin yang dikelompokkan dalam: Judul, Bait, Fokus, Diksi, Harmoni, Ending, dan Eksplorasi Ide. Bakhan ada dua frasa dicetak miring (artinya butuh menjadi perhatian): Jangan terlalu percaya pada improvisasi dan spontanitas dan Kelemahan Umum: (bahkan dengan huruf tebal) kurang sabar, kurang cermat, ingin cepat-cepat jadi, tertele-tele, mubazir, klise. Rasanya cukup menjadi masukan bagi mau berlatih untuk menulis puisi.

Buku ini juga menyajikan berbagai perbincangan dengan Jokpin pada berbagai kesempatan. Memang ada tema yang berulang, tetapi itu semakin melengkapi bagaimana proses kreatif Jokpin terjadi, latar belakang pemikirannya, serta hal-hal lain yang perlu diungkapkan.

Pokoknya buku ini lengkap mengungkapkan Joko Pinurbo, pemikirannya, proses penciptaan puisinya, dan kehidupannya. Lengkap karena dikumpulkan dari berbagai kesempatan, wawancara yang telah dimuat baik media khusus puisi maupun artikel di internet. Dilengkapi juga dengan 61 puisi Jokpin dari tahun 1980 (Layang-layang) hingga Hari Pertama Sekolah (2016/2018). Ada yang pendek, sebaris dua baris, ada pula yang berpuluh baris. Meskipun dapat diyakini bahwa puisi-puisi tersebut bukan merupakan representasi yang layak dari keseluruhan puisi yang telah dicipta oleh Jokpin. Namun puluhan puisi tersebut melengkapi gambaran mengenai Joko Pinurbo.

Epilog dengan judul Perjamuan Puisi mengajak pembaca untuk beribadah puisi dalam keheningan. Selamat menunaikan ibadah puisi (hal. 216)

Sebuah buku yang layak dibaca bagi yang suka membaca, yang suka berpuisi, atau yang membaca karena diwajibkan oleh guru atau dosen di kelas. Jika harus ada yang dikritik, maka seharusnya ada halaman untuk menyampaikan dari mana artikel-artikel itu berasal. Meski di setia artikel sudah terdapat identitas di mana artikel dimuat pertama, tapi karena banyak artikel dari situs di internet, tautan artikel akan sangat berguna. Apalagi biasanya di bawah artikel itu dimuat komentar-komentar pembaca. Menarik sekali membaca tulisan komentar pembaca. Kadang benar-benar gak nyambung, out of the box kata orang sana.

Sekali lagi: selamat menunaikan ibadah puisi.

Barabas – Diuji Segala Segi

Sebuah novel karya Arswendo Atmowiloto, GPU 2019

Senang baca cerita, baca novel ini. Senang membayangkan suatu keadaan, baca novel ini. Seneng baca Injil, terutama sekitar wafat Yesus dan kebangkitannya, baca novel ini. Senang berdoa Salam Maria dan Rosario, baca novel ini. Beneran.

Ini novel mengambil setting waktu sekitar kematian dan kebangkitan Yesus. Ya sekitar 40-50 hari sajalah. Tokohnya Yesus Barabas. Ya Barabas, yang menurut Injil, tahanan Romawi yang dibebaskan Pilatus dari hukuman mati. Inget pasio-nya dari Injil tulisan Yohanes yang dilagukan di hari Jumat Agung: Jangan Dia, melainkan Barabas. Biasanya dilagukan oleh koor, dilanjut narator: adapun Barabas, seorang penyamun.

Arswendo Atmowiloto, penulis novel ini, secara jenial menokohkan Barabas dengan sebutan Kalajengking Tampan, yang sangat sedikit cerita tentangnya di Injil, menjadi cerita yang utuh. Cerita Barabas ini utuh meskipun pembaca dengan memori bacaan Injil tentu akan menambahkan sendiri memori cerita. Nama-nama yang muncul di novel ini juga nama-nama yang sudah sangat dikenal karena muncul di Injil. Jeniusnya Wendo, cerita yang dia bikin ini tidak muncul di Injil meskipun sangat berkaitan dengan cerita di Injil.

Barabas digambarkan sebagai orang Yudea yang sangat membenci Romawi yang disebutnya Iblis Penjajah Klimis. Semua yang berbau Romawi dibenci luar-dalam. Memanjangkan rambut semata karena ‘berbeda dari serdadu Romawi yang klimis tanpa kumis’, tidak naik kuda karena kuda adalah tunggangan serdadu Romawi. Gadis yang dipacari serdadu Romawi disebutnya sundal, pelacur. Pokoknya mereka yang berhubungan dengan Romawi dilabeli sesuatu yang busuk.

Namun nanti ketika Barabas mengenal Yesus Kristus, yang dilihatnya ketika penuh luka dari ujung rambut hingga ujung kuku dibungkus cahaya dan tersenyum kepadanya, terjadi pembalikan. Pembalikan karena “Kebencian yang menghancurkan, yang bisa diganti dengan kebaikan, dengan kasih, dengan demikian di bumi kita berlaku seperti di dalam Kerajaan Allah”. Sebuah pembalikan karena menyadari kasih itu lebih besar dari semuanya. Baca bab ‘Barabas Berubah, Juga Roma’ (hal. 197)

Wendo secara jenial memasukkan hal-hal yang kadang sulit diterima dalam sebuah cerita. Misal di bab berjudul “Kisah dan Tafsiran” ditulisnya seperti ini:

Itulah cerita awal Injil itu ditulis oleh Matius atas perintah Petrus.

Pokoknya baca novel ini akan menikmati cerita yang sungguh hidup. Terbagi banyak bab, tapi satu bab hanya ada satu cerita yang sangat pendek. Bahkan hanya satu paragraf dan banyak yang hanya satu halaman. Bagi yang suka baca Injil dan merenungkan dengan menghidupkan kejadian di Injil tampak nyata dan ikut jadi pemain di cerita itu, maka baca novel ini akan memperkaya bayangan keadaan waktu itu. Arswendo sangat piawai menggambarkan keadaan setempat, menggambarkan kodisi seseorang dengan detail. Ini tentu akan membantu kita membayangkan keadaan sebenarnya di jaman Yesus berkarya.

Ceritanya juga penuh cerita yang bikin senyum, tanpa perlu merenungkan terlebih dahulu. Ini khas cerita Arswendo, bisa langsung bikin tersenyum setelah baca:

“Barabas, kenapa kita harus berdoa setiap hari?”
“Sebab itulah yang diajarkan langsung oleh Tuhan Yesus. Berilah kami rezeki pada hari ini. Yang artinya rezeki untuk hari ini, besok kita berdoa dan berusaha lagi. Tuhan Yesus tidak mengajarkan berdoa dengan ‘Berilah kami rezeki seminggu sekali'” (hal. 247)

Atau ini:

Dua hari menjelang hari ke 40, Barabas masih terlihat. Bertemu Lazarus
“Bagaimana kabar dua saudarimu yang cantik?”
“Untuk apa aku jawab, kalau Barabas tidak punya niat beristri.”
Keduanya tertawa.

Atau senyum yang simpul:

Nafas spiritualitas novel ini sangat kental dan dalam. Jauh lebih bercerita, tapi juga jauh lebih mendalam spiritualitasnya misal dibandingkan dengan novel Horeluya (GPU, 2008). Novel yang harus dibaca oleh mereka yang membaca Injil untuk menemukan cerita yang lebih banyak tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Mungkin novel ini tepat dibaca ketika masa Prapaskah, tapi dibaca bulan Oktober ini juga tepat. Banyak cerita tentang Bunda Maria, Ibu Yesus yang setiap Mei dan Oktober diperingati oleh orang Katolik sebagai Bulan Maria dan Bulan Rosario.

Tentu yang tidak mengenal Injil, belum pernah membacanya, tetap akan mendapat cerita, dapat sesuatu dengan membaca novel ini. Banyak kutipan-kutipan yang membikin senyum. Paragraf pertama saja sudah begini: “Inilah kesaksian hidup Barabas, lengkapnya Yesus Barabas. Nama lengkap itu tercatat karena Barabas masuk penjara, dan kebiasaan penjara adalah mencatat nama narapidana secara lengkap, dengan semua nama alias atau nama yang pernah dipergunakan.” Karena bagaimana pun Arswendo Atmowiloto seorang penulis yang piawai bercerita, dan itu cukup bagi yang senang membaca novel.

Ataraxia – Bahagia Menurut Stoikisme

Ataraxia – Bahagia Menurut Stoikisme
A. Setyo Wibowo

Resensi Buku: Ataraxia – Bahagia Menurut Stoikisme, A. Setyo Wibowo, Kanisius 2019

Hidup manusia selalu mencari bahagia. Berbagai cara dan jalan telah diperkenalkan. Bahagia itu sendiri bermacam wujudnya maka cara dan jalan yang ada juga beragam. Banyak sudah buku ditulis untuk memperkenalkan jalan pencapaian bahagia. Tapi buku yang ditulis oleh A. Setyo Wibowo, SJ ini memang lain daripada yang lain. Sebagai seorang yang mempelajari filsafat, maka diperkenalkan sejarah, cara berpikir, konsep, tokoh pengusung pemikiran stoikisme dalam alam pemikiran Yunani untuk mencapai bahagia. Tidak seperti buku-buku how-to atau guide-to yang menyajikan dengan jelas langkah yang harus dilakukan untuk mendapatkan sesuatu, maka bahasan buku ini sangat mendasar. Bahwa ada saran apa yang harus dilakukan menuju bahagia itu diberikan dalam bingkai besar pemikiran yang paling mendasar. Begitulah filsafat mengajak kita berpikir bahkan untuk hal yang sederhana, bahagia.

Paling tidak sudah ada dua buku Romo A. Setyo Wibowo, SJ ini yang memperkenalkan jalan menuju sukses dan bahagia. Arete, Hidup Sukses Menurut Platon (Kanisius, 2010) mengetengahkan bagaimana sukses dalam hidup. Sukses dalam hidup itu artinya hidup penuh keugaharian. Nah buku ini menyajikan bagaimana bahagia didapat dengan menjalani latihan menurut stoikisme.

Meskipun bicara tentang bahagia, tapi buku ini malah dibuka dengan pembahasan mengenai ‘Filsafat Sebagai Latihan Mati’ sebagai bagian dari ‘Filsafat Sebagai Laku Hidup’. Percuma mempelajari filsafat jika hanya sebagai pengetahuan teori tentang sesuatu. Filsafat harus terjadi dalam hidup, diejawantahkan dalam perilaku sebab hanya dengan begitu filsafat akan membawa manusia pada kesejatiannya. Agama juga berbicara mengenai kematian (dan kehidupan setelah kematian). Agama yang ditafsir secara ngawur oleh aliran tertentu membuat penganutnya menjadi pemuja kematian, pembunuh berdarah dingin, monster-monster bertopeng agama. Berbeda dengan filsafat yang mewacanakan latihan mati secara rasional. Filsafat menawarkan rasionalitas untuk menghadapi kematian apa adanya dan dari situ menawarkan cara menggapai kebahagiaan yang tak terlepas dari hidup berkeutamaan di dunia saat ini.

Tapi uraian filsafat tentang kehidupan yang berkeutamaan dan kematian ini tidak bertentangan dengan ajaran agama apa pun. Kita tetap bisa beragama, memegang keyakinan tentang Surga atau Neraka, sambil toleran pada fakta tanpa agama pun orang bisa pada sikap moral yang rasional dan cocok dengan keyakinan agama. Tentu filsafat, terutama filsafat Yunani memberikan arti menghadapi kematian yang berbeda dengan agama, sebab apa arti tubuh, jiwa, rasio, badan itu diberikan batasan yang sangat mendasar (dipikirkan secara mendasar). Platon misalnya menyatakann bahwa latihan mati dimaksudkan untuk membebaskan jiwa dari nafsu dan hasrat irasional yang “mengikat” jiwa kepada tubuhnya supaya jiwa bisa otonom tak tergantung pada tubuhnya berkat pertimbangan rasio.

Dalam kerangka berpikir seperti itu kaum stoik menunjukkan filsafat terutama mengenai bagaimana mesti menjalani hidupnya, manusia harus berlatih terus menerus agar sembuh dari penyakit jiwa yaitu (1) emosi negatif berupa nafsu atau hasrat berlebihan menginginkan atau menghidari sesuatu (2) emosi cara menilai yang keliru terhadap sesuatu. Jadi emosi yang tidak teratur itu adalah karena cara berpikir yang salah dan cara menilai yang salah.

Romo Setyo hanya membahas dua tokoh stoik secara cukup yaitu: Epiktetos dan Markus Aurelius. Pemikiran kaum stoic yang lain bertebaran sepanjang untuk menjelaskan arti sesuatu dari dua tokoh itu. Epiktetos diketengahkan sebagai tokoh stoickisme yang mengartikan filsafat sebagai askesis, yaitu latihan atau obat untuk menyembuhkan kesalahan dan nafsu yang muncul dari perilaku reaktif dan kebiasaan sehari-hari. Sedangkan dari Markus Aurelius disampaikan refleksi sekaligus metode untuk mengontrol diri.

Kita diminta untuk memilah ‘apa yang tergantung pada kita’ dan ‘apa yang tidak tergantung pada kita’. ‘Apa yang tergantung pada kita itu adalah apa yang ada di dalam, internal atau jiwa manusia. ‘Apa yang tidak tergantung pada kita’ meliputi tubuh, bagian tubuh, apa yang kita miliki, kehormatan, reputasi, kekayaan, orang tua, saudara, anak, negara atau siapa saja yang menjadi anggota komunitas di mana kita berada (hal 72). Semua itu sesuatu yang mungkin manusia harus gayuh tetapi benar pula bahwa hal itu tidak sepenuhnya tergantung pada upaya kita.

Setelah mengenali pemilahan itu maka perlu latihan agar hidup kita sesuai dengan Logos. Hasrat dan dorongan dari ‘apa yang tergantung pada kita’ perlu disesuaikan dengan Logos. Jika kita hidup sesuai Logos, maka kebahagian akan kita capai. Sedangkan terhadap ‘apa yang tidak tergantung pada kita’ kita tidak perlu serius memikirkannya. Latihan, askesis, dilakukan terus menerus setiap hari, setiap waktu ditujukan agar kebiasaan baik tertanam kuat dan tidak menjadi manusia yang biasa-biasa saja.

Tentu saja semua itu disajikan dalam disiplin filsafat, yang selalu bertanya dan mencari dasar yang paling dasar. Membaca buku ini tidak membuat kita mendapatkan kebahagiaan tetapi mendapatkan pencerahan bagaimana bahagia bisa dicapai (menurut stoikisme). Kita boleh tidak sependapat, memang harusnya begitu biar terjadi wacana yang sehat, tetapi membaca buku ini membuat kita paham ada banyak hal yang perlu kita pikirkan sungguh dalam hidup ini. Hal itu pun sudah dipikirkan sungguh oleh orang-orang Yunani semasa sebelum masehi.

Buku ini sangat penting untuk makin memperkaya buku-buku tentang filsafat Yunani yang dituliskan dalam bahasa Indonesia. Kita berharap banyak Romo Setyo terus mentranslasi tulisan-tulisan Platon agar semakin dikenal setelah sebelumnya sudah ada Lysis dan Xarmides.

Ucapan Terima Kasih Pada Misa Requiem Ibu Mertua

Terima kasih kepada bapak, ibu, saudara, kerabat, sahabat dan teman kami semua yang telah meluangkan waktu menyertai kami, menemani dan mendoakan Ibu sejak sakit hingga hari ini dan di hari-hari mendatang. Terutama kepada Romo Paulus Supriyo, Pr dari Paroki Pugeran yang mempersembahkan misa requiem siang ini.

Ibu Chatarina Sumiharti, ibu kami ini, Ibu yang sungguh membesarkan kami semua dengan tangan kasihnya. Ibu yang tak pernah menuntut baik kepada Bapak maupun kepada kami anak-anaknya.

Ibu yang dekapannya menguatkan ketika kami gundah. Pelukan hangatnya membuat kami tenang.

Ibu yang masakannya selalu pas di lidah kami semua. Ibu memasaknya dengan bumbu cinta.

Ibu yang jahitan bajunya, entah dari bahan kain atau permak baju yang kami beli, enak jatuhnya. Ibu menjahitnya dengan benang rasa sayang.

Ibu yang kibasan kemoceng, elusan kain lap dan gerak sapunya membersihkan rumah hingga nyaman buat kami bertumbuh.

Dalam ingatan kami, Ibu tak pernah sakit. Senantiasa sehat. Maka ketika sekitar setahun lalu Ibu mengeluh ada benjolan di punggung, awalnya kami tenang saja.

Baru ketika Ibu ngendiko: kok loro tur awakku gampang lemes. Kami tergerak untuk mengajak ke rumah sakit, periksa dokter. Ditawari operasi pengangkatan, Ibu kerso. Tanpa mengeluh, berbulan lamanya itu luka operasi tidak menutup sempurna.

Kami terus mengusahakan pengobatan terbaik. Hingga lebaran kemarin, kesehatan Ibu terus menurun. Kadang tidak sadar, kadang sadar dan melirih sakit. Kadang ingat semua, kadang lupa segala hal.

Kata pemazmur, tujuh puluh umurmu, delapan puluh jika kamu kuat. Tahun ini umur Ibu delapan puluh tiga, sudah lebih dari kuat.

Tetapi terbaik bagi Ibu ternyata datang Minggu 2 September 2018 pukul 13:10 di Rumah Sakit Panti Rapih. Ibu tindak ke rumah Bapa, Ibu kondur ke peristirahatan langgeng, setelah paginya mendapatkan sakramen pengurapan orang sakit oleh Romo Gunadi Pr.

Untuk itu kami mohon doa dan maaf sebesar-besarnya bila Ibu kami mempunyai salah. Bila masih ada sangkutan dengan Ibu, silakan menghubungi kami putra-putrinya karena Ibu tak pesan apa pun.

Ibu akan dimakamkan di makam Ndaengan. Satu-satunya tempat yang Ibu usahakan sendiri dan kami putra putrinya menghormati pilihan Ibu ini.

Bagi bapak ibu saudara saudari yang berkenan untuk menghantar Ibu hingga pemakaman, kami ucapkan banyak terima kasih.

Demikian dari kami keluarga. Dan terakhir ‘lemah teles, Gusti Allah sing mbales‘.

Berkah dalem.

NB:

Tadi dibacakan dari naskah yang belum diedit, dengan suara tertahan, mencekat. Tapi tak jatuh tangis.

Yogyakarta, 3 September 2018.

Anggota Keluarga Baru

Hai dengan Kikhu di sini….

Kikhu mau cerita tentang anggota keluarga baru. Kejadiannya sudah agak lama, cuma karena Kikhu sibuk nana nini (ke sana ke sini maksudnya), baru sekarang bisa menuliskannya. Sepulang dari Cangkringan terakhir itu, Pajo yang jaga rumah memamerkan hasil buruannya. Katanya: ya dia datang sendiri, terus saya mau pegang kok lari masuk got. Terus hari berikutnya dia datang lagi, dipasang lem tikus, eh kena. Anakan biawak disimpannya di dalam ember.

img_20180402_153500-350961875.jpg

Pajo tidak mau bawa. Katanya: masih terlalu kecil, pun dipotong dagingnya tidak banyak. Pawi dan Buni sepakat, sudahlah dilepas saja. Setelah diberi makan jangkrik. Dia dilepas di halaman belakang. Biarlah dia liar kembali ke alam. Beda dengan Krucil musang itu, dulu dikandangkan karena ada beberapa luka di badannya dan terlihat kurus kurang makan. Kasihan kata Buni.

Sekitar seminggu kemudian, eh itu biawak kecil muncul terlihat lagi. Pawi kasih jangkrik yang biasa buat burung, dilempar gitu, langsung kejar dan hup masuk mulut. Habislah sekitar sepuluh ekor jangkrik. Setelah itu dia pergi ke bawah mesin cuci. Hari berikutnya Buni melihat biawak kecil ini sedang berusaha menelan kadal kecil, tinggal terlihat ekor kadal. Terkesima, Buni tidak ambil gambarnya. Sebagai penjelas, beberapa hari sebelumnya memang ada kadal kecil di halaman belakang, sama Buni disediakan ulat hongkong makanan burung. Kadal kecil itu memakannya.

Pawi dan Buni menyadari, ini biawak kecil ini mencari makan. Okelah jika begitu. Hari berikutnya dia datang, setelah dikasih sekitar sepuluh jangkrik, dia pergi. Ya masih belum ada yang berani untuk dekat-dekat. Seram. Tapi setelah setiap hari dia datang, Buni dan Pawi menjadi akrab. Dia selalu kejar sesuatu yang bergerak. Jadi ceritanya, Buni belum menyadari kehadirannya, mungkin jempol kakinya gerak-gerak gitu, eh tetiba (ini bagus ya buat ganti kata tiba-tiba) dia datang. Woaaaaa, kata Buni. Sekitar jam 9-10 pagi, setelah mulai panas, dia akan terlihat di halaman belakang.

Resmilah biawak kecil itu menjadi anggota keluarga. Kami menyebutnya sebagai Sibi, Si Biawak. Tidak menggunakan huruf K, seperti nama-nama yang anggota keluarga yang disematkan Buni, karena kalau Kibi kok kayanya kurang imut. Pada jam-jam tertentu Sibi akan mengintip dari got, ini fotonya.

img_-mwr802-1506795105.jpg

Sibi mengintip dari got :))

Atau pada kesempatan lain, dia berjalan-jalan dengan santai menikmati udara dan panas matahari. Berjemur. Ini beberapa penampakannya.

img_20180428_123017-1151580876.jpg

img_20180505_101345-350064303.jpg

img_0663

Sibi, gagah ya.

Pokoknya Sibi sudah menjadi anggota keluarga besar. Dia bebas berkeliaran di halaman belakang. Tidurnya entah di bawah mesin cuci, di gerumbul pepohonan, di bawah almari, atau entah di mana. Bebas saja. Pawi sudah mulai kenal, kasih makannya langsung ke mulutnya, tidak dilempar lagi. Makannya sangat lahap. Kemarin itu sama Pawi sempat dikasih potongan daging ayam, biasanya jangkrik ya, ya lahap banget makannya. Lidahnya yang ungu dijulur-julurkan. Ketika menelan makanan maka leher akan diputar-putar, membantu makanan masuk ke perutnya.

Sibi membawa pelajaran juga: dia akan selalu pergi jika sudah kenyang. Pun diberikan makanan lagi, akan ditinggalkannya. Sebelum masuk bawah mesin cuci atau masuk ke gerumbul pepohonan, dia akan memalingkan muka mungkin mengucapkan terima kasih. Sibi anggota keluarga baru, beberapa hari ini tidak tampak, mungkin sedang berganti kulit karena terakhir terlihat kulit tubuhnya banyak mengelupas.

Kehadiran Sibi ini tidak mengherankan. Tahun lalu, induknya pernah mampir ke garasi. Siang-siang Pawi mau tangkap itu satu yang masuk garasi eh kok ternyata ada dua, yawis biarlah mereka hidup liar di luar. Biawak dewasa ini cukup besar, sekira lengan manusia dewasa yang tidak gemuk tapi juga bukan kurus. Ini penampakan gagahnya.

img_20170617_1341001585219923.jpg

img_20170617_134618-1553051999.jpg

Indukan biawak, dengan santai meninggalkan garasi.

Ciaoooo, sampai ketemu di cerita berikutnya.

Pekan Suci -4 – Vigili Paskah

Vigili Paskah – Tirakatan Wungu Dalem

Sabtu malam sebelum Minggu Paskah adalah perayaan khas Gereja Katholik. Denominasi Kristen yang lain tidak mempunyai ritual untuk vigili ini. Bicara soal denominasi ini agak sengkarut sebetulnya tergantung klaim muncul dari mana. Tetapi sekedar pembedaan dari sejarahnya maka pemisahan kristen yang pertama adalah antara gereja barat (Roma, Katholik) dengan gereja timur (Konstantinopel, Orthodox). Pada gereja barat kemudian ada pemisahan lagi yang lebih mudah disebut: Kristen Katholik dan Kristen Protestan. Kaprah yang berlanjut,  ‘Katholik’ untuk sebutan Kristen Katholik dan ‘Kristen’ untuk sebutan Kristen Protestan.

Itu garis besarnya. Jika dalami maka akan banyak sengkarut yang melibatkan soal: dasar iman kepercayaan, ritus, kitab-kitab yang diakui, pimpinan, hingga ritus. Katholik dan Orthodox biasanya tidak menyebut diri sebagai denomimasi. Denominasi hanya diperuntukkan kelompok-kelompok di dalam kelompok besar Kristen (Protestan). Udah deh segini dulu soal ini.

Banyak hal bisa diperdebatkan tetapi soal Paskah, Kebangkitan Tuhan semua menyepakati hal yang sama: Yesus wafat sebagai silih atas dosa manusia, Yesus mengalahkan maut, bangkit untuk menebus  manusia dan menyertai manusia sepanjang masa.

Perayaan Vigili Paskah dilaksanakan di Gereja St. Franciscus Xaverius Cangkringan pada Sabtu 31 Maret 2018 dimulai pukul 19:00 dipimpin oleh Romo Antonius Susanto, OMI menggunakan bahasa Jawa dengan iringan gamelan.

Perayaan Vigili selalu dimulai dengan upacara cahaya yang menjadi simbol bahwa Yesus Kristus sebagai terang dunia. Dalam keadaan gelap, seluruh lampu dimatikan agar hanya akan ada cahaya dari lilin Paskah, arak-arakan petugas liturgi dan romo berhenti di depan pintu gereja di mana upacara cahaya akan dilakukan. Tiba-tiba terdengar doa pembukaan dalam bahasa Jawa yang dinyanyikan (dikidungkan) oleh Romo Santo. Romo Santo sangat piawai dalam menyanyikan doa-doa itu, suaranya yang  keras namun lembut, bulat dan jelas menciptakan suasana yang syahdu. Nges. Sayang gak bisa ambil audito maupun video-nya.

Perarakan lilin Paskah memasuki gereja yang kemudian ikuti Madah Pujian Paskah (Pepudyan Paskah) yang dikidungkan oleh petugas. Berikut video cuplikannya.

Umat menanggapi dengan menyanyikan:

Surak-suraka umat manungsa sadonya
Surak-suraka Gusti wungu saka seda
Sembah sewu nuwun unjukna marang Pangeran
Gusti menang perang klakon kalah bala setan

Pembacaan Liturgi Sabda yang jumlahnya lima, tiga bacaan dikidungkan oleh petugas dan tiga doa menyertai dikidungkan oleh Romo Santo. Mantab banget.

Maaf jika terlalu lirih ya :))

Teks doa yang dibacakan itu:

IMG_20180401_163344

Hingga bacaan Injil dilanjut dengan homili. Romo Santo mengajak umat untuk tersenyum dan tetap tersenyum menghadap ke kanan dan kiri. Sebuah ice breaking yang sangat bermakna. Senyum yang berasal dari hati mudah membawa kita dekat dengan orang-orang di sekitar. Inti homili Romo Santo adalah ucapan: aja wedi, jangan takut. Mengapa tidak perlu takut? Ada tiga alasan untuk tidak perlu takut.

Pertama, Gusti pingin manunggal. Ketika Allah menciptakan dunia dan seisinya, menciptakan langit dan bumi, daratan dan lautan, binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, manusia dicipta menurut citraNYA (ngemperi Aku).  Allah melihat semuanya itu baik.  Kita tidak perlu takut karena Allah sendiri menciptakan itu semua baik dan DIA menyertai kita.

Kedua, Gusti aweh pitulungan. Pada waosan kapindo diambil dari Pangentasan 14:15 – 15:1 tentang bagaimana Allah menyertai dan menolong Bangsa Israel dari kejaran bala tentara Mesir. Allah tidak hanya menyertai tetapi juga memberi pertolongan. Tidak hanya dulu kepada Bangsa Israel, tetapi juga kepada kita sekarang ini. Itu membuat kita tidak perlu takut.

Ketiga, akeh salah mertobat entuk ati anyar.  Bacaan ketiga diambil dari Kitab Ezekiel dengan petikan sebagai judul ‘kowe bakal Daksiram banyu bening lan Dakparingi ati anyar‘, kamu semua bakan disiram dengan air bening dan diberi hati baru. Pun kita telah berdosa, ‘krana Asma-Ku sing suci sing wis kogawe kucem‘ tetapi kita diberi kesempatan memperbaiki diri. ‘Kowe bakal Dakresiki saka sakehe reregedmu lan kabeh gugon tuhonmu. Kowe arep Dakparingi ati anyar lan batinmu Daktanduri roh anyar‘. Jika sudah begini apa yang membuat kita takut?

Itu semua karena Sang Putra Terkasih yang dikurbankan sebagai silih dosa manusia sudah bangkit mengalahkan maut ‘Sang Kristus wungu saka seda lan ora bakal seda maneh‘. Ini harus jadi keyakinan kita sehingga kita berani dan hidup dalam iman akan Yesus Kristus. Begitu homili Romo Santo yang diingat. Ya diingat karena di ritus penutus Romo Santo mengulangi dalam bahasa Indonesia isi homili tadi secara ringkas agar yang tidak mengerti bahasa Jawa bisa mengikuti dengan baik.

Setelah homili disambung dengan ‘ngenggalaken prajanji baptis‘, ya mengulangi janji baptis. Sebagai orang Katholik untuk sanggup untuk ‘nyingkur setan, mbrantas kadurakan, ninggal panggodha, nglawan sarupane tindak murang adil‘. Diterus ‘ngandel marang Allah, Rama kang Mahakuasa, Gusti Yesus Kristus, Putra Dalem ontang-anting….‘ yang merupakan bentuk dari syahadat iman kepercayaan Katolik. Umat mendapat percikan air suci dengan memegang lilin yang dinyalakan berasal dari lilin Paskah, yang menandakan baptis yang pernah diterima diperbaharui. Sementara gending-gending menyanyikan beberapa lagu. Tidak panjang waktu karena umat juga tidak terlalu banyak, 250an saja.

Upacara dilanjut dengan liturgi Ekaristi dan ritus penutup dengan berkah meriah Paskah. Tak terasa malam semakin larut. Lihat penunjuk waktu sudah menunjukkan pukul 21:50an yah hampir 3 jam. Meski misa sudah selesai umat masih banyak yang beradu cerita di depan gereja, tak ada yang buru-buru. Membalas senyum dan ucapan ‘Selamat Paskah’ begitu mudah diberikan umat. Memang misa dengan gending akan menjadikan waktu lebih panjang tetapi terasa sangat menyentuh dan membuat haru yang dalam.

Semoga catatan ini menjadi pengingat serta penyimpan memori di internet. Tak muluk-muluk, reportase dibuat untuk melatih menulis dan menyimpan tulisan yang dibuat.

Reportase ini, meskipun telat upload, menandai berakhirnya reportase Pekan Suci. Besok mungkin muncul cerita yang lain dan yang lain lagi.

ciao.

 

Pekan Suci -3 – Jumat Agung

Jumat Agung

Umat Kristiani memperingati wafat Tuhan Yesus pada perayaan Jumat Agung. Pada kalender kita, kita libur pada hari Jumat ini. Sedang pada kebangkitanNYA, di hari Minggu malah tidak dinyatakan sebagai hari libur. Ya karena yang menggunakan kalender Gregorian biasanya juga libur di hari Minggu jadi tidak perlu ada libur lagi.

Bagi umat Katolik, peringatan wafat Tuhan Yesus adalah peringatan khusus. Tidak ada ekaristi di hari itu, pokok liturginya hanya: liturgi sabda, penyembahan salib, dan komuni. Komuni tidak didahului Doa Syukur Agung dan menggunakan hosti yang sudah dikonseklir pada perayaan Kamis Putih. Maka biasanya di Kamis Putih, hosti yang dikonseklir lebih lebih banyak dari biasanya karena untuk komuni di Jumat Agung.

Di Gereja St. Franciscus Xaverius Cangkringan, sebuah stasi dari Paroki Petrus dan Paulus Babadan – Sleman, perayaan Jumat Suci dilaksanakan pukul 15:00 menggunakan bahasa Jawa tanpa gending dan dipimpin oleh Romo Andreas Sulardi, Pr. Bila di kota-kota besar mengikuti rangkaian Pekan Suci butuh waktu 1 – 2 jam sejak berangkat dari rumah, menunggu waktu dimulai, maka di stasi kecil begini lebih longgar. Hingga 20 – 30 menit sebelum dimulai masih sepi, meski nanti ketika waktu mulai bakalan penuh juga.

Suatu yang khas di gereja Katolik adalah pembacaan Kisah Sengsara Tuhan Yesus yang dilagukan (pasio). Lagu pasio sudah standar dan mudah diingat tapi bila dalam bahasa Jawa, ya baru akan mengikuti sekarang ini. Ini kesempatan pertama mengikuti pasio pakai bahasa Jawa, menarik. Berikut ini video cuplikan pasio dalam bahasa Jawa itu: Pasio Sangsara Dalem Gusti Yesus

 

Disajikan juga bagian yang dilagukan itu, agar bisa diikuti dengan baik :))

IMG_20180331_072844[1]

Tidak ada homili pada kesempatan ini dilanjut dengan doa umat yang juga dilagukan. Doa umat kali ini adalah doa permohonan yang dilagukan bergantian antara pelagu doa dengan romo, juga dalam bahasa Jawa. Berikut cuplikan salah satu doa permohonan yang dilagukan oleh lektris. Menarik.

 

Ini doa yang ditayangkan itu:

IMG_20180331_073236[1]

Jumat Agung tentu pakai penyembahan salib, ngabekti salib suci. Semua hadirin kecil besar tua muda pria wanita melakukan penyembahan salib. Di gereja-gereja besar dengan banyak umat, penyembahan salib membutuhkan banyak salib dan banyak waktu. Beda dengan di Gereja Cangkringan ini, hadirin sekitar 300an dengan tiga buah salib tidak butuh banyak waktu. Koor cukup hanya menyanyikan dua lagu mengiringi penyembahan salib itu.

Sedikit berbeda, mungkin khas di Keuskupan Agung Semarang, setelah penyembahan salib dilakukan pemberkatan benda-benda rohani melalui percikan air suci. Sebelumnya umat sudah diberitahu untuk membawa benda rohani seperti: salib, rosario, kitab suci, patung, dan benda rohani lainnya untuk mendapatkan berkat. Umat yang membawa benda-benda rohani mengangkatnya dan romo berkeliling untuk memberikan percikan air suci. Sementara itu altar dipersiapkan untuk komuni.

Sebuah pengalaman menarik: mengikuti pasio dalam bahasa Jawa dan pemberkatan benda rohani secara bersama. Mengikuti misa kudus dalam bahasa Jawa sudah kerap kali, di Gereja St. Franciscus Xaverius ini jika minggu ketiga setiap bulan misa diadakan dalam bahasa Jawa. Bahasa memang soal pengungkapan apa yang ada dalam hati, juga ketika berdoa. Tidak seluruh frasa atau kalimat dapat dimengerti, masih perlu banyak mengikuti misa bahasa Jawa, tapi memang terasa lebih menyentuh.

Berharap misa seperti ini, dalam bahasa lokal tetap dilakukan sesuai lokalitas masing-masing gereja. Meskipun gereja Katolik itu universal, sesuai dengan kata katolik, tetapi penghormatan kepada budaya setempat mendapat tempat istimewa, inkulturasi istilahnya. Pernah mengikuti misa di Bangkok dalam bahasa Thailand, sama sekali tidak ada satu kata pun yang dikenali, tetapi karena struktur misa yang sama tetap dapat mengikuti misa dengan baik. Tentu doa dalam hati tetap dalam bahasa Indonesia. :))

Jumat Agung adalah perayaan penuh kesedihan, muram namun tetap memberikan harapan bahwa Allah yang memberikan diri dalam Putra Tunggal, sengsara dan wafat untuk kita semua yang mempercayainya. Nanti pada KebangkitanNYA, semakin nyata cinta Allah kepada manusia. Allah menyertai manusia, mengatasi maut.