Ngawur Bikin Ngakak

Ini pernyataan serius seorang wakil menteri atau kegenitan wartawan mengutip pembicaraan seseorang (yang kebetulan wakil menteri). Tapi apapun yang terjadi, baca ini sungguh bikin ngakak.

Img_0018
Advertisements

Bromo – Keheningan

Malam itu, lebih tepat disebut sore karena penunjuk waktu belum menyentuh angka tujuh, rasanya lengkap sekali. Hawa dingin. Gelap. Hotel tempat kami menginap, entah sengaja atau tidak, tidak memasang lampu terlalu banyak di luar kamar. Kawah pasir yang sebelum gelap tadi kami lihat di bawah sana, dengan hardtop dan motor yang terlihat kecil sekali, hanya menyisakan kegelapan. Gunung Batok, bukit di samping kawah berasap putih, tak terlihat sama sekali. Memang ada kerlip lampu di sana-sini tapi apalah artinya dihadapan kegelapan yang hampir sempurna. Mana juga bulan terlihat ogah menampakkan diri.

Hawa dingin menusuk tulang. Kaos rangkap dua di balik jaket tak cukup menghangatkan badan. Rasanya bukan sebuah bisnis sampingan jika petugas hotel menawarkan sewa jaket parasut tebal. Memang sebuah benda yang sangat dibutuhkan. Apalagi oleh kebanyakan kita yang biasa hidup di daerah panas. Mereka, orang-orang Bromo, mengandalkan sarung di samping jaket atau baju hangat yang dipakainya.

“Selewat jam dua belas nanti, suhu bisa sampai dua derajat (celcius pasti maksudnya)” ujar pedagang kaos tangan dan topi ponco. Ini mungkin berbau iklan tapi sepertinya mereka hanya ingin memastikan kita bisa menikmati dingin tanpa harus menderita karena kedinginan.

‘Silakan istirahat Pak, besok jam tiga kita bangunin, jam empat kita siap jalan ke Penanjakan melihat matahari terbit’, penjaga hotel mempersilakan. Badan yang memang sudah capai mengemudi melalui jalanan seperti itu, sudah kenyang pula dengan menu nasi goreng, rasanya pas sekali untuk meletakkan badan. Seteguk dua Baileys Irish Cream lewat tenggorokan juga menghangatkan perut.

Berangkat tidur dengan baju berlapis dan selimut tebal, dua pula, rasanya sudah cukup hangat. Sebelum bener-benar tertidur, barulah nyata ada keheningan. Keheningan yang nyaris sempurna. Sebuah sepi yang hampir tak dijumpai di tempat lain. Sempat mengecek lubang telinga, sekedar memastikan ini keheningan bukan gangguan pendengaran. Tanpa suara serangga, tanpa suara televisi atau elektronik lainnya, tanpa suara langkah kaki, tanpa suara bincang, tanpa suara tetesan air, apalagi suara kendaraan, pun jauh di sana. Hening. Nyaman sekali.

Di agak kejauhan sana terdengar pembacaan doa (sloka ?) dan terjemahannya. Awalnya terasa asing lantunan lagunya, tapi sejurus kemudian terasa syahdu mengelus hati. Oh Tuhan, betapa indahnya keheninganMU.

Ingat sebuah tulisan, keheningan adalah syarat utama mengenali diri. Dalam keheningan yang sempurna yang terdengar adalah apa yang ada di hati. Rasanya benar tulisan itu. Namun upaya mengenali diri malam itu, kalah dengan tidur yang tiba-tiba menjemput.

Bromo – Perjalanan

‘Dari Pasuruan arah Probolinggo, nanti setelah Nguling sekitar 15 menit setelah kantor polisi, ambil jalan masuk kanan’ begitu Vebs kasih ancar-ancar. Itu pegangan awal. Tanpa terbayang route yang harus dilewati. Tanpa tahu daerah yang dituju kecuali: Wisata Pasir Bromo. Desa atau kecamatan apa tidak satupun mampir di otak.

Google Map yang ampuh dan serba tahu itu, tidak memberi petunjuk apapun soal ini. Cari-cari informasi di internet tetep dilakukan. Meskipun terbatas seterbatas layanan provider gsm. Terbatas kecepatannya bukan jangkauannya. Malah soal jangkauan, amat sangat mengagumkan. Jadi soal arah kemana Bromo itu, masih miskin informasi.

Dari Bangkalan, setelah tersesat di Surabaya gara-gara lupa buka Google Maps, masuk tol jurusan Surabaya-Gempol. Tol sampai habis karena lumpur lapindo yang sialan itu, ambil kiri. Tentu karena Tanggulangin yang melegenda itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Lihat-lihat produk dari kulit asli maupun imitasi segala rupa sepatu tas dompet topi dengan beragam bentuk desain corak dan warna tentu juga harga.

Tanggulangin arah Malang Pasuruan selepas samping rel bawah tanggul yang jadi tempat wisata, macet bukan main. Macet kerena jumlah kendaraan yang luar biasa banyak. Arah Pasuruan Probolinggo akhirnya longgar setelah pisah dari arah Malang. Mungkin perjalanan ke Malang seperti perjalanan Jakarta – Cianjur lewat Puncak, tak tahu pasti.

Jalan ke Pasuruan – Probolinggo relatif bagus. Jika ada gangguan itu juga karena sedang ada perbaikan maupun pelebaran jalan. Jalanan relatif datar, kendaraan dapat dipacu setelah biasanya melewati truk angkutan barang. Setiap kali harus beriringan dengan kecepatan rendah, dapat dipastikan konvoi itu dipimpin oleh truk gandeng lebar dan panjang. Bener ‘lebar dan panjang’, frasa itu dituliskan di beberapa truk angkutan barang, biasanya dalam susunan kalimat peringatan. “Hati-hati, kendaraan ini lebar dan panjang” dengan gambar truk dengan gandengannya dengan jumlah ban yang entah berapa pasang. Sayang tidak berhasil ambil gambar. Soalnya selalu memilih kesempatan untuk mencari celah menyusulnya. Pasuruan terlewati setelah Bangil yang pesantrennya ada di kanan maupun kiri jalan. Banyak bener.

Selepas Grati, terlihat penjual durian di kiri kanan jalan. Kecil besar tapi lebih banyak yang warnanya hijau. Rasanya sayang untuk dilewatkan. Di sebuah penjual durian, menepi. Tak perlu memilih penjualnyang mana sepertinya ya sama saja, pun juga harganya. “yang paling besar ini empat puluh lima ribu” kata penjualnya, “durian dari sini saja”. Dipilihkan penjualnya, didapat durian yang meskipun kulitnya hijau juga di kulit dalamnya, tapi duriannya sudah meleleh. Pas banget, rasa duriannya kuat banget. Puas.

Ketika dibayarkan dengan uang pecahan Rp 50.000,00 dikembalikan Rp 10.000,00. “Itu karena mas gak nawar” alasan penjualnya. Soal beli sesuatu di warung pinggir jalan atau di pasar, tak pernah pakai menawar. Beli barang di mall, yang tidak kenal dan bincang-bincang dengan penjualnya saja tidak bisa menawar. Apalagi ini, yang pakai ngobrol, kenalan, cari info, kenapa juga harus menawar. Dari penjual itu pula didapat informasi, masuk ke kanan di Tongas. Ada petunjuknya arahnya meskipun kecil.

Betul juga. Ketemu petunjuk arah wisata Gunung Bromo, langsung ambil kanan. Tetapi seperti setiap kali ambil arah baru, selalu memastikan dahulu jalan yang hendak dilalui. Tanya seorang di pinggir jalan, betul itu arah Bromo. Tapi lupa tanya soal jauh dan lamanya. Vebs yang pernah lewat jalan itu beberapa tahun lalu mengkonfirmasi: jauh sekitar sejam perjalanan. Diperkuat dengan iklan Hotel Grand Bromo, sepuluh kilometer di depan. Wah kalau sepuluh kilo tidak bisa dibilang jauh. Mungkin sejam kalau tidak ngebut. Itu yang terpikir dari semua informasi yang diperoleh.

Jalanan relatif baik, sebagian mulus hampir tak ada yang keriting, tapi selalu menanjak meskipun relatif tidak tinggi. Sebagian lagi di depan kelak kelok kanan kiri, dengan tanjakan yang cukup tajam. Ya hanya tanjakan. Bosan rasanya melewati jalanan yang relatif sama. Apalagi tidak terlihat informasi apapun soal wisata Bromo. Semakin ke atas semakin banyak ketemu kabut meski tipis. Jalanan juga semakin serin kelok kanan kirinya. Kelok kanan tak panjang, kelok kiri tak panjang, kelok kanan lagi sambil terus naik, kelok kiri lagi. Kadang jalanan yang hendak dilalui di depan sana terlihat di atas. Tapi hingga tempat itu perlu minimal sepasang kelok kiri dan kanan. Bosan rasanya. Ketemu jalan bercabang, arah satunya dari Probolinggo. Sedikit ke atas ada pompa bensin. Pingin update informasi tapi terlihat banyak pelanggan lagi isi bensin. Gagal, juga tak jadi pipis yang sudah terasa ketika hendak masuk dari Tongas. Terpaksa ditahan karena terkesima dengan jalanannya.

Pengukur jarak terlihat sepuluh kilometer, petunjuk Grand Bromo Hotel terlihat, tapi mana Wisata Bromo ? Semakin ke atas semakin sering ditemui kebun sayuran. Di sebuah kelokan yan cukup lebar dengan pencabangan jalan terlihat beberapa orang dengan motor (ojek ?). Wah kesempatan update informasi. Ternyata Bromo yang kami tuju itu masih sekitar 13 kilometer lagi. Sudah separo jalan. Hilang pula rasa bosan dengan informasi terbaru itu. Jalanan yang cukup lengang tidak memberikan kesempatan untuk memacu kendaraan dan kehilangan fokus. Kiri atau kanan jalan jurang. Jalan dengan tetap fokus jadi persyaratan apalagi tanjakan semakin parah.

Akhirnya ketemu dengan perkampungan dengan banyak Hardtop. Nanti akhirnya kami tahu, buat apa Hardtop itu. Banyak sekali jenis mobil ini apalagi juga karena di situ jarang bertemu kendaraan. Jalanan semakin banyak percabangan. Tanpa petunjuk, dipilih selalu yang terlihat lebih lebar. Tanpa informasi seperti masuk labirin.

Seorang naik sepeda motor menyusul di sebuah tikungan dan menawarkan butuh villa atau hotel. Hotel dipilih karena yakin tak mungkin balik jadi butuh bermalam, juga dipilih karena sekedar buat tidur berdua. Mas Indra, demikian lelaki itu memperkenalkan dirinya, mengawal kami hingga sebuah hotel dengan pemandangan langsung kawah Bromo.

Berakhirlah perjalanan menemukan Bromo melalui kebosanan, ketidaktahuan, sedikit informasi, pengambilan keputusan sederhana, dan akhirnya ada yang memberi pencerahan. Begitulah kadang hidup dijalani. Ketidaktahuan dan sedikitnya informasi tidak membuat kita menyerah menghadapi hidup yang sering kali membosankan. Apapun alasannya. Selalu bersiap di depan sana akan ada bantuan. Yakinlah bantuan itu dikirim-NYA khusus untuk menyelesaikan masalah kita.

cerita lanjut ke permenungan yang lain………soal bromo, hardtop, sun rise, dan lain-lain…..

Belajar Sabar

Img_0005Img_0014Img_0015

Perjalanan kali ini, mulai 18 Juli 2011 adalah perjalanan melatih kesabaran. Kita semua tahu jalanan di pulau Jawa belum siap untuk perjalanan seperti ketika lebaran. Inilah intinya, bagaimana bisa belajar sabar di jalan. Segitu dulu.

Lanjutannya.

Gambar pertama adalah angka yang ditunjukkan oleh odometer ketika hendak keluar rumah, 17.851. Gambar kedua adalah odometer ketika sudah sampai rumah, 20.149. Selisihnya ada di gambar ketiga 2.298,8.

Perjalanan hampir 3.000 km selama tujuh malam, dua malam di Jogja tanpa perjalanan jauh, memberikan banyak cerita. Silakan dinikmati…..

 

Masih Tentang Marah

Sekarang mari kita lihat apakah kemarahan kita bertambah atau berkurang. Kita hitung dan kita bandingkan turus yang kita buat kemarin.

Jika membuat turus menjadikan kemarahan kita bertambah. Turusnya selalu bertambah setiap hari. Kita perlu pikirkan, apa yang menyebabkan kita marah. Hal-hal apa yang membuat perasaan menjadi marah. Kumpulkan hal-hal yang membuat marah. Pekerjaan, hubungan dengan orang lain, lalu lintas, jadwal kerja, keinginan, dsb. Pokoknya apa saja yang kemarin-kemarin telah membuat kita marah. Cukup kumpulkan saja. Tidak ada analisis kecuali mengumpulkan hal-hal yang membuat marah kemarin.

Jika membuat turus menjadikan kemarahan kita berkurang. Turusnya selalu berkurang setiap hari. Kita perlu membuat turus terus sampai dengan suatu kondisi bahwa turus-turus seperti itu sudah tidak diperlukan lagi. Jika kesadaran untuk membuat turus saja sudah dapat mengendalikan kemarahan, vioooooooooolaaaa, kesadaran sudah didapat.

Jika dari turus yang kita buat tidak dapat disimpulkan apakah kemarahan bertambah atau berkurang. Maka harus terus membuat turus sehingga nanti ada kesimpulan bertambah atau berkurang. Selama belum dapat kesimpulan bertambah atau berkurang, tidak ada yang perlu dilakukan kecuali membuat turus.

Mari membuat turus kemarahan.

Tentang Marah

Kemarahan sering muncul tiba-tiba. Kemarahan sering tanpa sebab. Kemarahan sering kali mengganggu kenyamanan hidup. Hidup pribadi maupun hidup sosial dan orang- orang di sekitar kita. Sering kali sulit mengelola kemarahan. Untuk langkah pertama, coba lakukan pencatatan setiap kali ada rasa marah di hati. Catat sederhana saja. Buat turus saja. Malah hari coba hadirkan lagi suasana yang membuat marah. Jika tidak mampu menghadirkan suasana itu, berjanjilah dalam hati untuk tidak marah tanpa sebab. Cukup begitu dulu langkah pertama.