Dia Selalu Ada – Merapi

Beberapa foto menampilkan Gunung Merapi yang gagah, namun gumpil bila dilihat dari Cangkringan. Kadang Merapi mau menampahkan puncaknya yang gagah itu, kadang awan menutupinya. Tapi dia selalu ada di sana.

Pun bukan jepretan profesional maupun dengan gadget yang pro, tapi selalu bisa terlihat cantik dan gagah Merapi itu. Iya, bukan alatnya, bukan orangnya, Merapi yang jadi pusat perhatian.

Pekan Suci -2 – Kamis Putih

Kamis Putih

Memasuki Trihari Suci diawali dengan Kamis Putih untuk mengenangkan perjamuan Tuhan. Trihari Suci dikenal sebagai Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Vigili (Paskah) dan Minggu Paskah. Entah kenapa disebut trihari padahal kenyataannya ada empat hari. Mungkin karena Sabtu dan Minggu Paskah itu dihitung dan dianggap Sabtu. Padahal ya disadari bahwa Sabtu Vigili dan Minggu Paskah itu berbeda secara liturgis, tetapi yang sudah mengikuti Sabtu Vigili merasa bebas untuk tidak mengikuti Minggu Paskah. Itu pembahasan yang bisa jadi rumit. Ini tentang hal-hal yang sederhana saja.

IMG_20180330_084603_HDR[1].jpg

Di Gereja St. Franciscus Xaverius Cangkringan perayaan ekaristi dipimpin oleh Romo Robertus Hardiyanta, Pr. Beliau adalah Romo Paroki Babadan, paroki induk dari gereja stasi Cangkringan. Ada yang khas dari misa Kamis Putih yaitu pembasuhan kaki wakil umat oleh pastor pemimpin ekaristi dan perarakan pemindahan Sakramen Mahakudus sekaligus tuguran, doa menemani Yesus yang berdoa di Taman Getsemani.

Kamis Putih adalah perayaan mengenangkan perjamuan Tuhan. Yesus pada waktu itu merayakan Paskah Yahudi dengan tata cara Yahudi, seperti dibacakan di Bacaan Pertama dari Kitab Keluaran. Paskah Yahudi adalah peringatan akan bulan pertama dari segala bulan, dari setiap tahun. Untuk itu harus dirayakan oleh setiap keluarga. Banyak tata cara baik pilihan kambing atau domba yang disembelih, memanggang dagingnya, pakaian yang harus dikenakan, dan lain-lain.

Dilanjut Bacaan Kedua dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Korintus yang meneruskan bagaimana ekaristi, makan minum bersama harus dilakukan, seperti diajarkan oleh Yesus sendiri. ‘Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang (1Kor. 11:26)’. Murid-murid meneruskan apa yang dilakukan Yesus pada saat perjamuan terakhir. Inilah dasar biblis ekaristi kudus. Pada bacaan Injil yang diambil dari Injil Yohanes (Yoh. 13:1-15) menceritakan bagaimana Yesus menunjukkan teladan untuk membasuh kaki para Rasul. Ada penggalan tanya jawab antara Yesus dengan Petrus mengenai kenapa harus dibasuh kaki, bukan mandi? Ya, jika tidak dibasuh kaki bukan murid Yesus. Ya, cukup dibasuh kaki bukan mandi karena yang sudah mandi tidak perlu membasuh diri, cukup kaki.

Homili Romo Robertus Hardiyanta, Pr menekankan banyak hal dari mulai perayaan itu menjadi lengkap bila disertai dengan makan. Pada saat makan terlihat watak asli manusia: tamak atau sederhana. Satu yang mengesan: mengapa Yesus menyatakan sebuah perintah baru mengenai saling melayani, saling mencintai. Bukankah perintah di Perjanjian Lama juga sudah banyak perintah tentang saling melayani, saling mencintai? Apanya yang baru?

‘Jadi, jika Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Sebab Aku telah memberikan sesuatu teladan kepadamu, supaya kamu juga melakukan seperti yang telah Aku lakukan kepadamu.’ Perintah ini menjadi ‘baru’ karena bukan hanya perintah tetapi disertai dengan contoh, teladan. Yesus tidak hanya memberikan perintah tetapi contoh langsung dilihat para Rasul. Yesus mau, apa yang dilakukan, dilakukan pula oleh para murid. Kita harus saling melayani, mencintai sesama kita dengan dasar kita mengikuti apa yang dilakukan oleh Yesus untuk saling melayani dan mencintai.

Itu yang dibawa pulang kemarin sore sepulang dari gereja. Kita senang melakukan sesuatu untuk saudara kita tanpa pamrih karena meneladani Yesus. Bukan sesuatu yang kosong, tetapi ada semangat untuk meneladani Yesus, menjadi serupa denganNya, menjalankan perintah-perintahnya.

Ciao, kok jadi dalam banget begini. Maunya yang sederhana saja awalnya, tapi yawis begini saja.

Di akhir perayaan ekaristi, Sakramen Mahakudus diarak, dipindahkan ke tempat aula, tempat di mana nanti tuguran, doa semalaman akan dilakukan oleh umat. Sejak perayaan Kamis Putih berakhir gereja akan nampak muram, sedih untuk mengenangkan Sengsara Tuhan Yesus besok di hari Jumat.

Beberapa gambar yang sempat diambil.

 

 

 

 

 

Pekan Suci – 1 – Minggu Palma

Minggu Palma

Umat Katolik memulai Pekan Suci dengan perayaan Minggu Palma, Minggu Palem. Dalam masa prapaskah yang dimulai dari Rabu Abu maka Pekan Suci adalah minggu terakhir dari masa prapaskah. Kali ini cerita tentang  Perayaan Hari Minggu Palma di Gereja St. Franciscus Xaverius Cangkringan.

IMG_20180325_072309[1]

Seperti juga mungkin terjadi di paroki-paroki yang lain. Perayaan Minggu Palma dimulai dengan perberkatan daun palem yang dibawa umat dan perarakan. Perarakan ada yang dimulai dari lingkungan gereja sendiri atau dari tempat sekitar gereja. Di Gereja St. Fransiscus Xaverius Cangkringan – ini stasi dari Paroki Gereja St Petrus Paulus Babadan http://peterpaulbabadan.blogspot.co.id/ – perayaan Minggu Palma dimulai dari rumah seorang umat. Di rumah tersebut diadakan pemberkatan daun palem kemudian diteruskan dengan perarakan ke gereja, sekitar 150 meter.

Misa dimulai pukul 08:00 tetapi antusias umat sudah terasa satu jam sebelumnya. Mereka sudah berdatangan, terutama para petugasnya. Petugas koor berseragam, petugas liturginya bersiap. Beberapa gambar berikut ini merekam keadan itu.

Perayaan misa dipimpin oleh Romo Antonius Susanto, OMI yang dalam homili pendek setelah bacaan sebelum perarakan mengingatkan Yesus yang disambut sebagai raja memasuki Yerusalem adalah Yesus Sang Raja kita semua. Kita harus berani menyatakan: HOSANA bagi Yesus yang meraja di hidup kita. Beberapa gambar ini merekam suasana yang ada.

Perarakan dari rumah tersebut ke gereja melalui jalan desa (Jl. Dliring) kemudian melewati jalan utama Cangkringan. Petugas kepolisian ikut membantu mengatur lalu lintas. Pemuda dan pemudi desa membantu menyediakan tempat parkir dan mengatur jalan. Jelas tergambar kehidupan beradampingan yang penuh guyup, saling membantu, dan saling menghormati.

Perayaan Minggu Palma dilanjutkan perayaan ekaristi di gereja. Di Minggu Palma dibacakan Kisah Sengsara Tuhan dari Markus 15: 1-15. Dalam homilinya Romo Santo meminta umat untuk mengangkat daun palem dan mengucapkan HOSANA…HOSANA..HOSANA, setelah itu diminta meletakkan palem dan mengepalkan tangan sambil mengucapkan SALIBKAN DIA…SALIBKAN DIA…SALIBKAN DIA. Umat diminta merasakan apakah ada bedanya? Kemudian homili mengalir hingga bahwa Kristus sang Raja itu mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Selama pekan suci ini kita diminta untuk meresapi sengsara Tuhan Yesus sebagai silih atas dosa-dosa manusia.

Demikian reportase Perayaan Minggu Palma di Gereja St. Frasiscus Xaverius Cangkringan. Beberapa moment yang tertinggal.

Jika ada yang nanya: Kikhu dan Robyn di mana? Ya mereka mendapat tempat terbaik: di garasi saja :))

 

Perjalanan Ini

Masih belum subuh, jalanan masih kosong. Masuk tol BSD masih lengang. Banyaknya truk-truk pengangkut tanah. Berarti banyak pembangunan, kata Pawi. Ngebut aja terus. Sampai ketemu dengan tol Bekasi, barulah mulai tersendat. Penuh mobil dan truk-truk besar. Mobil kami yang kecil terselip di antara truk-truk besar, gandengan, atau kontainer. Terus tersendat sampai lewat Bekasi Timur. Ya tentu karena samping kanan dan kiri jalur tol sedang ada pembangunan. Mereka aktif kerja di malam hari. Jam-jam segitu sepertinya lagi banyak keluar masuk kendaraan proyek. Sejam lebih BSD – Bekasi Timur.

Tapi kemacetan masih berlanjut, setelah sempat lancar sebentar, memasuki Karawang. Ini lebih parah dari kemacetan yang tadi. Mobil sering terpaksa berhenti. Kasusnya sama, pembangunan di sebelah kiri dan kanan jalur tol ke arah Cikampek. Pekerja proyek sedang sibuk tugas masing-masing. Sudah hampir jam lima pagi melewatinya, dua jam untuk jarak 70-80 km. Masih normal jika itu bukan tol dan tidak di pagi hari sih.

Mungkin memang bukan waktu yang tepat memasuki tol Cikampek di malam, dini dan pagi hari. Itu saatnya mereka bekerja. Kendaraan proyek keluar masuk tentu mengganggu arus tol. Kendaraan yang besar dan panjang tentu akan memakan waktu lebih lama untuk sekedar masuk ke lingkungan proyek. Apalagi dengan bawaan betol yang terlihat berat betul.

Pawi bilang, niatnya jalani saja yang ada, lancar atau pun macet. Nikmati dan syukuri. Meski mereka sering bilang begitu tetapi ya ada juga masanya tidak bisa terima keadaan, ada gerutu.

‘Dasar manusia, ya Byn’ udah sadar tapi masih menggerutu. Banyak menggerutu itu ndak sabar. Mending kayak Robyn, kalau bosen dia lihat melalui jendela truk-truk besar yang sedemikian banyak. Terus tidur lagi deh.

Tidak banyak bisa diceritakan tentang perjalanan ini. Kecuali dua: memasuki kota Pekalongan dan jalur naik turun di Batang. Pekalongan (kabupaten maupun kotamadya) dilewati jalur truk dan bis, mereka tidak punya jalur khusus yang melingkar seperti di Kendal misalnya. Jadi bus dan truk besar itu masuk ke dalam kota, bersaing dengan angkutan kota, becak, motor, dan pejalan kaki. Lampu lalu lintas menjadi pemecah antrian saja. Jumlahnya yang banyak, karena banyak persilangan, membosankan. Padahal di lampu lalu lintas itu kesempatan buat menyusul truk-truk besar yang agak lambat akselerasinya.

Batang, menjelang alas roban, jalanan sudah bagus dengan beton yang kuat. Tapi kontur tanah yang naik turun itu membuat banyak kendaraan berat tertatih-tatih membawa beban. Antrian sekitar satu dua kilometer dengan kecepatan nol kilometer terjadi.  Penyebabnya: satu truk besar mogok di kiri dan satu pasang truk (truk besar digandeng truk yang lebih besar lagi) yang jalan terlalu pelan di sebelah kanan. Lewat itu ya sudah lancar. Sekitar satu jam untuk lolos dari antrian itu.

Tapi yawis itulah hidup.

Perjalanan selanjutnya lancar, sekitar jam empat sore sudah sampai di rumah cangkringan. Hilang kesal, penat, cape dan boring. Teman-temanku menyambut. Mereka berebut foto bersama aku dan Robyn. Kami berdua jadi kayak selebritis. Tapi Pawi dan Buni terlalu capai untuk mengabadikan kejadian ini.  Tapi kami tahu foto kami dengan mereka tersebar melalui Line dan FB. Kok tahu? Lha malam ada yang datang cuma untuk berfoto bersama kami setelah melihat temannya memposting fotonya di Line dan FB. Guyup, menyenangkan.

Berakhir juga puasa kami. Kami makan dengan antusias dan yang lebih penting Kikhu tidak mabuk dan muntah. Sambung cerita yang lain.

Ayo Berangkat

Masih pagi, eh dini hari malah, ketika kami tahu Pawi dan Buni siap-siap.

“Robyn Kikhu ndak usah dikasih makan deh daripada nanti muntah. Kuatlah mereka puasa seharian” kata Buni. Wah puasa deh seharian ini.

Ini semalemnya waktu nyoba tempat kami selama perjalanan.

Kursi dilipat dan bawaan ditaruh mepet pintu bagasi. Jadi lebih luas tentu.

‘Lapang ya Byn’

Pagi masih jam 3an kami udah siap. Mobil sudah keluar garasi. Masih satu dua pesan ke Pajo yang bakal nunggu rumah. Pesan buat Krucil, itu musang piaraan Buni. Juga buat burung-burung di kandang piaraan Pawi. Dipesankan biar mereka tercukupi makan dan minum kayaknya.

‘Ayo berangkat, nunggu apa lagi sih?’

Uluk salam dadah buat Pakjo, 03:07 kami berangkat. Mudik. Dadah buat semuanya…. Lanjut di posting berikut.

Persiapan Mudik Maret 2018

Sudah sekitar dua minggu Pawi ngajak ngobrol soal Cangkringan. Pulang ke Cangkringan. Mudik, main.

Bener juga. Minggu siang kami dimandikan. Tanda-tanda nih. Buni mandiin kami jarang-jarang. Biasanya dihandukin dan lap pakai kanebo kalau kami kotor atau basah. Tapi kalau pakai dimandiin, pasti deh kami mau diajak pergi.

Aku dimandiin duluan dan Robyn lari-lari kegirangan sekalian ngejek aku. Padahal nanti dia juga kebagian dimandiin. Robyn selalu begitu, ndak inget kalau kita berdua, pasti bakalan dimandiin semua. Selalu berdua.

Ndak selalu berdua. Pagi agak siang tadi aku diajak Buni dan Pawi buat menicure dan pedicure. Bener, sumpah. Bukan karena aku jantan metro main meni pedi. Tapi karena aku polidactily, tumbuh jari kaki tambahan di kaki belakang. Kanan maupun kiri.

Jari tambahan itu gak pernah kepakai, jadi kukunya panjang. Gak kayak jari biasa yang karena dipakai jalan atau lari, kukunya tak pernah panjang. Panjangnya sampai nusuk daging. Belum sampai sakit sih, soalnya Pawi atau Buni pasti sudah ribut kalau sudah nempel daging.

Pawi sendiri gak berani motong kuku itu. Pasti aku dibawa ke salon anjing di Granada situ. Sekalian potong kuku pasti juga bersihin kuping. Biasanya ongkosnya 20ribu kata Pawi. Pulang dari meni pedi, Robyn pasti gak terima. Aku dibauin gak abis-abis. Itu sekalinya aku dan Robyn dibedain.

Bener khan, abis aku selesai diandukin dan diajak jalan berjemur biar kulit gak jamuran kata Pawi, Robyn mulai dimandiin. Karena nakal, Buni sering pakai kata-kata keras. Ndak kayak pas mandiin aku.

‘Mobil di service, utamanya rem dicek deh’.

‘Besok kita coba, bawaan diatur mepet pintu bagasi. Jadi Robyn Kikhu ndak bisa naik ke bawaan.’

‘Jangan lupa bawa telor dan beras, biar gak kelaparan pas malem atau paginya, gegara malas keluar. Di rumah sana gak ada apa-apa.’

‘Pajo udah diingetin? Datangnya Kamis pagi aja, sekalian mbenerin genteng melorot. Kita punya pilihan pulang Kamis malam, dinihari, atau subuh.’

Begitu pembicaraan Pawi Buni menyangkut persiapan mudik kali ini. Mereka selalu menyiapkan segala sesuatu dengan baik. Jarang dadakan, apalagi kalau bawa kami berdua. Itulah persiapan mudik kali ini.

Tapi abis mandi aku diejek karena buluku tak seputih punya Robyn.

Aku bilang, “tunggu aja sehari, apa putih bulunya Robyn masih bisa dibanggakan?” Kutahu Robyn sukanya main blusukan, bulunya cepat kotor. Hari berganti, berganti. Ceritanya, nanti lagi.

Ciuman (Bibir) Pertama

Ciuman (Bibir) Pertama

Semua ada awal mula atau pertama. Siapa inget pacar pertama? Aku gak inget yang mana harus disebut pacar pertama. Tapi ku ingat ciuman pertama.

Ya ciuman bibir, bukan cuma tempel pipi kanan kiri. Bukan. Jika yang seperti itu, malah lupa dengan siapa. Saking banyaknya dan tidak mengesan.

SMA darah muda. Menggelegak. Dia aku anggap pacar. Entah dari dia ke aku. Tapi rasanya kita pacaran. Surat-suratan, meski kita di satu kota eh kampung, satu sekolah. Belajar bersama, sudah pasti. Itu kamuflase. Jika ada teman yang mergoki, kita sedang bahas pelajaran. Ada saja satu dua teman yang datang pas aku di rumahnya. Aku ke tempat dia seperti biasa. Sekali dua, dia ke rumahku.

Sampailah suatu ketika. Hendak pulang dari rumahnya. Hari telah gelap. Sudah pamit ke keluarga, ada adik dan bapaknya. Berhenti di beranda depan. Sambil berdiri. Ngobrol lagi. Lupa ngobrol apa. Ingetnya, pas mau pulang.

‘Soen pipi ya?’
Dia menyodorkan pipinya. Aku cium dengan batang hidung, ke pipinya. Halus. Kanan. Kiri juga. Terus aku lihat matanya. Dipegangnya daguku. Terus dia cium di bibir. Beneran. Di bibir. Dia yang cium aku duluan. Hangat. Sedot bibir, mainan lidah. Ah wis ah. Wis itu pokoknya ciuman yang tidak akan hilang dari ingatan.

‘wis ah’ terus aku ngeloyor ke luar, setelah elus pipinya, sambil bilang: : ‘makasih’. Gak aku tatap lagi matanya. Gak berani. Entah bersalah, takut atau malu atau senang mungkin nafsu juga. Campur aduk. Bingung tapi seneng.

Pulang ke rumah naik sepeda. Itu bersepeda berasa terbang. Melayang. Di hari itu aku gak tidur. Beneran.

Itu ceritaku. Cerita nyata tapi tokohnya tak aku tuliskan.

Tabik.